KLIKJATIM.Com | Surabaya – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak seluruh elemen pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi ancaman kemarau ekstrem yang dipicu fenomena El Nino. Penegasan ini disampaikan bertepatan dengan Peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) Tahun 2026, Minggu (26/4/2026).
Selaras dengan tema HKB 2026, “Siap untuk Selamat: Bersatu dalam Siaga, Tangguh Menghadapi Bencana”, Khofifah menekankan bahwa kesiapsiagaan adalah kunci utama untuk menekan risiko dampak bencana melalui langkah yang terencana dan berbasis data.
Berdasarkan data BMKG, musim kemarau tahun 2026 di Jawa Timur diprediksi mulai memasuki 56,9 persen wilayah pada bulan Mei. Adapun puncak kemarau diperkirakan terjadi pada bulan Agustus mendatang, yang mencakup 70,9 persen wilayah Jatim.
"Kita akan menghadapi tekanan kekeringan yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Durasi kemarau tahun ini diperkirakan cukup panjang, mencapai 220 hingga 240 hari di sejumlah zona musim. Seluruh kepala daerah harus bergerak proaktif sebelum puncak kemarau terjadi," tegas Khofifah di Surabaya.
Gubernur Khofifah memaparkan bahwa sinergi lintas sektor telah berhasil menurunkan Indeks Risiko Bencana (IRB) Jawa Timur secara konsisten. Tercatat IRB Jatim terus menurun dari angka 117,26 pada tahun 2021 menjadi 95,75 pada tahun 2024.
Meskipun pada tahun 2025 tercatat angka 108,36, Khofifah menjelaskan hal tersebut dikarenakan adanya perubahan variabel perhitungan Hazard (Bahaya) dan Vulnerability (Kerentanan) sesuai regulasi terbaru BNPB tahun 2026. "Namun sejatinya, setiap tahun kita terus berupaya menurunkan indeks risiko bencana melalui langkah mitigasi yang terpadu sesuai Pergub Nomor 53 Tahun 2023," imbuhnya.
Selain kekeringan, ancaman kebakaran hutan dan lahan menjadi perhatian serius. Gubernur mengimbau masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya pencegahan dengan tidak melakukan pembakaran lahan atau sampah tanpa pengawasan.
"Saya imbau masyarakat tidak melakukan hal-hal yang dapat memicu terjadinya karhutla. Gunakan air secara bijak dan segera lapor kepada pemerintah setempat jika melihat potensi bencana," pesannya.
Data menunjukkan bahwa pada periode 2022 hingga 2025, sekitar 92-97 persen kejadian bencana di Jatim didominasi oleh bencana hidrometeorologi. Sementara pada triwulan pertama tahun 2026 (Januari-Maret), telah terjadi 121 kejadian bencana yang didominasi angin kencang (82 kejadian) dan banjir (27 kejadian).
"Respons kita tidak boleh biasa-biasa saja. Tantangan perubahan iklim adalah realitas saat ini. Mari kita kuatkan sinergi dan pastikan Jawa Timur tetap aman, tangguh, dan produktif menghadapi musim kemarau 2026," pungkas Khofifah.
Editor : Fatih