KLIKJATIM.Com | Jakarta – Parade Penulis dan Pembaca Mizan di Indonesia International Book Fair (IIBF) 2025, yang digelar di Lobby Stage JCC pada Minggu (28/9/2025) lalu, menyuguhkan percakapan hangat dan inspiratif tentang proses kreatif para penulis. Acara bertajuk "Banyak Baca Banyak Karya" ini dihadiri oleh berbagai bookish dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Makassar, Lampung, dan Surabaya.
Acara tersebut menghadirkan tiga narasumber dengan latar belakang unik yakni dr. Gia Pratama penulis best seller, Sasti Gotama penulis dan peraih Penghargaan Kusala Sastra 2025, serta Fayanna penulis KKPK dan pendiri Self Grow Indonesia.
Masing-masing penulis membagikan pemicu mereka jatuh cinta pada dunia literasi dan menulis. Dr. Gia Pratama membuka perbincangan dengan kisah manis menjadi "kurir surat cinta" di masa sekolah.
Baca Juga : Asyik, Dinas Perpustakaan Bojonegoro Punya Aplikasi Baca Buku Digital Gratis"Kebiasaan merangkai frasa romantis saat itu memantik kegairahannya pada dunia literasi dan menjadi kebiasaan sederhana yang mendorong giat literasi," ujarnya.
Sementara Fayanna, seorang mahasiswa semester lima yang mulai menulis sejak usia delapan tahun, bercerita pengalamannya dekat dengan buku yang sempat membuatnya menjadi korban bully saat SD.
"Pengalaman ini justru memperkuat tekadnya untuk terus menulis, terutama setelah aktif di komunitas terkait dunia anak," tambahnya.
Hal senada diungkapkan Sasti Gotama (penulis Korpus Uterus, Ingatan Ikan-Ikan, dll.) yang memiliki metode disiplin menetapkan target membaca 100 buku per tahun. Dimana baginya, kebiasaan ini penting untuk memperkaya kosakata, menemukan ragam penceritaan, dan membantu menemukan suara sendiri dalam menulis.
Baca Juga ; Eks Narapidana Terorisme Asal Pasuruan Cerita Pengalaman Terjerumus ke Dalam Kelompok Radikal, Sempat Pergi ke Timur Tengah, Kini Jadi Barista dan Penulis BukuDalam sesi tanya jawab, Novia Adibatus Shofah, Dosen Sastra Indonesia UINSA, menyoroti novel Sasti Gotama, Korpus Uterus, yang secara jujur memotret sejarah keliyanan perempuan di latar Orde Baru. Novia menanyakan bagaimana Sasti meleburkan batas imajinasi dengan proses non-sastrawi seperti riset medis dan arsip sejarah.
Menanggapi hal ini, Sasti menjelaskan bahwa awalnya karya sastra yang ia lahirkan adalah sebagai katarsis pribadi atas isu-isu inferioritas perempuan di Indonesia. Namun, ia menyadari karyanya beralih menjadi katarsis komunal setelah dibaca banyak orang.
Dalam proses kreatifnya, Sasti menekankan riset panjang, termasuk menelaah regulasi dan arsip berita tentang aborsi dari masa Orde Baru hingga 2009. Sebagai praktisi kesehatan, ia juga menjunjung tanggung jawab etis, yaitu mencatat pengalaman secara hati-hati, menjaga kerahasiaan identitas narasumber, dan meramu fakta menjadi narasi yang peka.
Baca Juga : Rumahnya Terbakar, Bocah SD di Jember Ini Sedih Tak Punya Seragam dan BukuMengenai teknis menulis, dr. Gia menyarankan pembedaan waktu menulis dan editing (misalnya, pekan pertama menulis, pekan kedua editing) agar cerita dapat tamat. Sementara Fayanna cenderung melakukan outlining dan mengandalkan pengalaman empirisnya di komunitas anak.
Pada akhirnya, ketiga penulis sepakat bahwa menulis lahir dari kombinasi bacaan, pengalaman hidup, dan kerja riset. Sasti menekankan pentingnya mencatat ide kapan pun muncul, sementara dr. Gia dan Fayanna menunjukkan bagaimana pengalaman sehari-hari bisa menjadi sarana edukasi publik.
Dari diskusi tersebut disimpulkan bahwa sastra mampu menjadi ruang edukasi tanpa menggurui. Melalui cerita, pembaca diajak mengalami perspektif lain, menjalani empati, dan mencerna masalah kompleks secara lebih manusiawi. Acara "Banyak Baca, Banyak Karya" menegaskan kembali bahwa membaca yang tekun seringkali berujung pada karya yang bermakna. (yud)
Editor : Rozy