KLIKJATIM.Com | Gresik — Kelangkaan solar di Pulau Bawean sudah hampir satu bulan lebih. Hal tersebut membuat nelayan di Bawean menjerit dan merasa terdolimi. Pasalnya warga Pulau Putri sebutan Pulau Bawean tidak menerima harga subsidi solar dalam penyaluran solar di Pulau Bawean.
[irp]
“Rakyat Bawean tidak menerima subsidi. Yang harusnya solar harganya Rp 5.500 disini (Pulau Bawean Red) menjadi Rp 7 ribu sampai Rp 8 ribu. Bensin demikian,” ungkap salah satu nelayan Bawean Rifai.
Diakui, selama kelangkaan solar ini harga solat pun naik. Mulai dari harga Rp 9 ribu sampai harga 10 ribu per liter. Nelayan pun mensiasati dengan tidak banyak menggunakan solar saat melalut.
“Ya ngirit mas, dan tetap cari-cari solar. Kadang ada dari teman nelayan saling bantu untuk belikan solar,” ujarnya.
Kendati demikian, meski di Pualu Bawean sudah ada tiga Agen Premium Minyak Solar (APMS) tetap saja harga solar dan bensin tidak sama seperti di Jawa.
“Kita terdolimi, masyarakat Bawean yang memberikan subsidi kepada pengusaha minyak, bukan malah membantu,” tegasnya.
Menanggapi kondisi tersebut, anggota komisi II DPRD Gresik Musa mengaku geram dengan kelangkaan solar di tanah kelahirannya. Pihaknya meminta secara tegas kepada Pertamina regional Jatim untuk melakukan langkah antisipatif.
“Langkanya BBM jenis solar di Bawean telah menyebabkan kerugian besar khususnya untuk nelayan di Bawean. kami minta dengan tegas kepada pertamina regional jatim untuk segera melakukan langkah antisipasi agar nelayan bisa beraktivitas normal kembali,” ungkap politikus Dapil Bawean itu.
Tidak berhenti disitu, Musa juga meminta Pertamina untuk lakukan audit terkait distribusi BBM khususnya jenis solar ke kepulauan Bawean Gresik.
“Jika ditemukan penyimpangan dalam distribusi, agar pertamina menindak distributor atau suplayer atau spekulen bbm jenis solar ke Bawean,” tegas ketua Fraksi Nasdem itu. (bro)
Editor : Redaksi