klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Ada 20 Keanehan, Peserta Tes Perangkat Desa Pacul dan Kalirejo Lapor DPRD Bojonegoro

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy
Ketua Komisi A DPRD Bojonegoro Lasmiran (Kiri) dan Zulma Dwi Satrio Putra (kanan) saat menemui peserta ujian bersama dinas terkait (Afifullah/klikjatim.com)
Ketua Komisi A DPRD Bojonegoro Lasmiran (Kiri) dan Zulma Dwi Satrio Putra (kanan) saat menemui peserta ujian bersama dinas terkait (Afifullah/klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Bojonegoro - Banyak hal ganjil terjadi saat pengisian tes perangkat Desa Pacul dan Kalirejo, Kecamatan Kota Bojonegoro. Puluhan peserta ujian akhirnya mendatangi Kantor DPRD Bojonegoro dengan membawa 20 persoalan.

[irp]

"Saya hanya bercerita soal ujian tersebut, karena banyak persoalan menurut saya dan teman teman," ungkap Nurlila, salah peserta yang mendaftar Sekdes di Desa Kalirejo kepada Klikjatim.com, Senin (19/10/2020).

Ia mengatakan, kedatangan ke DPRD ini agar ditindak lanjuti terkait keganjalan soal yang sudah terjadi. Karena nantinya agar tidak terulang lagi di Desa lain. "Saya harap DPRD bisa menindaklanjuti ini," ujarnya.

Menurut Nurlila, ada 20 persoalan saat tes perangkat desa, salah satunya, mulai keterlambatan pihak ketiga, molornya waktu hingga 5 jam dan errornya aplikasi serta, nilai yang tidak sama antara di komputer dan hasil yang diumumkan.

"Iya aplikasinya mati terus, saat itu saya sudah ngisi dan mati, secara otomatis jawaban saya hilang, katanya dari panitia akan ditambahkan waktu untuk komputernya yang eror dan kenyataanya tidak ada tambahan waktu," imbuhnya.

Kemudian lanjut Nurlila, untuk hasil ujian akhir peserta tidak sama dengan nilai yang muncul di komputer masing-masing peserta. Anehnya saat itu nilai di komputer yang awalnya 46, waktu diprint out berubah menjadi 58.

"Padahal saya tidak mengikuti ujian kedua karena walk out, terus bisa bertambah itu dari mana," bebernya.

Ditempat yang sama peserta lain Novia Rudianto mengaku mendapat nilai nol dari dua kali ujian yang dilaksanakan oleh pihak panitia. Baik saat mengerjakan 50 soal maupun 8 soal pada ujian kedua.

"Bahkan sebelum tes dimulai, ketika pengambilan kartu peserta, nama saya ditulis salah. Lalu saya menyampaikan kepada panitia maupun pihak ketiga, katanya tidak apa-apa. Bisa jadi karena nama saya salah, hasil nilai saya tidak bisa diinput," kata Novia.

Dalam hal ini ditemui langsung oleh Ketua Komisi A DPRD Bojonegoro, Lasmiran. Ia menuturkan, nantinya dalam waktu dekat ini akan melakukan kroscek terkait pengaduan ini. Dan nantinya keinginan peserta dapat dipecahkan bersama oleh stakeholder terkait.

“Iya nanti akan ditindak lanjuti sehingga tidak menimbulkan permasalahan dikemudian hari, agar permasalahan ini tidak terjadi ke desa lain," pungkasnya. (bro)

Editor :