klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Molor Lima Jam, Tes Perangkat Desa di Kecamatan Kota Disorot DPRD Bojonegoro

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy
Sejumlah peserta menunggu mulainya tes perangkat desa di MAN 1 Bojonegoro. (Nur Afifullah/Klikjatim.com)
Sejumlah peserta menunggu mulainya tes perangkat desa di MAN 1 Bojonegoro. (Nur Afifullah/Klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Bojonegoro - Terkait molornya Ujian Tes Perangkat Desa di Desa Pacul dan Kalirejo, Kecamatan Kota Bojonegoro, disoroti anggota DPRD Bojonegoro Komisi A yang membidangi Bidang Hukum dan Pemerintah.

[irp]

"Kita akan memanggil Desa terkait untuk meminta kejelasan dengan adanya kejadian tadi," ungkap Agung Handoyo, anggota Komisi A DPRD Bojonegoro kepada klikjatim Kamis (15/10/2020)

Ia mengatakan, seharusnya sebelum pelaksanaan test, team dan pihak ke 3 (Universitas Airlangga) Surabaya maupun pihak Kecamatan melakukan pengecekan dilokasi yang akan dipakai untuk test. Tidak seperti ini, test akan dimulai ternyata ada masalah pada sistem.

"Kasihan para peserta yg sudah mempersiapkan diri untuk bisa ikut test," katanya.

Menurutnya, waktu dekat ini Komisi A DPRD Bojonegoro akan melakukan pemanggilan terkait peristiwa yang sudah terjadi.

Perlu diketahui, pelaksanaan ujian berbasis Computer Assisted Test (CAT) ini di ikuti 222 peserta yang bertempat di Sekolah MAN 1 Bojonegoro. Tes ini meliputi Desa Pacul dan Kalirejo, Kecamatan Kota Bojonegoro. Mulanya dijadwalkan pukul 07.30 WIB dan baru bisa masuk pukul 13.00 WIB.

Molornya jadwal pelaksanaan ujian CAT lantaran penggunaan sistem untuk connect di komputer yang digunakan berbeda dengan sistem yang telah disiapkan oleh pihak UNAIR Surabaya selaku pihak ketiga.

Sementara itu Camat Kota Bojonegoro Mochlisin Andi Irawan mengatakan, dengan perbedaan sistem aplikasi yang digunakan mengakibatkan ujian CAT molor hingga beberapa jam. Sebab, pihak UNAIR Surabaya harus memasukan data peserta ujian kembali sekaligus mensinkronkan komputer para peserta.

"Memang lama molornya, tapi ini semua sebagai proses transparansi pelaksanaan pengisian perangkat desa," pungkasnya.

Selain menunggu lama hingga berjam-jam, peserta ujian bahkan ada yang memilih meninggalkan lokasi tersebut dan tidak mengikuti ujian hingga selesai. (bro)

Editor :