klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Ditopang Bisnis Lahan JIIPE dan BBM, Laba AKR Semester I-2026 Tumbuh 21 Persen

avatar Much Taufiqurachman Wahyudi
  • URL berhasil dicopy
Pertumbuhan bisnis distribusi BBM serta kinerja kawasan industri JIIPE menjadi penopang utama kinerja AKR
Pertumbuhan bisnis distribusi BBM serta kinerja kawasan industri JIIPE menjadi penopang utama kinerja AKR

KLIKJATIM.Com | Jakarta - PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) menunjukkan performa positif sepanjang semester I-2026. Pertumbuhan bisnis perdagangan dan distribusi BBM serta kinerja kawasan industri JIIPE menjadi penopang utama kinerja perseroan.

AKRA membukukan pendapatan Rp30,84 triliun pada semester I-2026, meningkat 44% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp21,41 triliun. Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp1,43 triliun, naik 21,2% secara tahunan.

Capaian tersebut dinilai cukup kuat karena telah merealisasikan sekitar 51,8�ri estimasi laba setahun penuh 2026 versi Maybank Sekuritas dan 50,6�ri konsensus pasar.

Momentum pertumbuhan juga terlihat pada kuartal II-2026. Laba bersih AKRA meningkat 25,9% YoY dan 17,9% QoQ menjadi Rp774 miliar. Sementara itu, EBITDA konsolidasi semester I-2026 tumbuh 18,2% YoY menjadi Rp2,01 triliun.

Segmen Trading & Distribution (T&D) tetap menjadi penyumbang terbesar pendapatan AKRA. Pendapatan segmen ini tumbuh 44% YoY menjadi Rp28 triliun.

Kinerja tersebut terutama ditopang oleh penjualan BBM industri yang meningkat 46,7% menjadi Rp23,53 triliun. Penjualan bahan kimia dasar juga tumbuh 30,4% menjadi Rp4,5 triliun.

Di sisi lain, bisnis kawasan industri dan utilitas JIIPE mencatat pertumbuhan lebih agresif. Pendapatannya melonjak 102% YoY menjadi Rp1,7 triliun, dengan penjualan lahan industri naik 139% menjadi Rp1,28 triliun.

Total lahan yang terjual pada semester pertama mencapai sekitar 58 hektare. Perseroan menargetkan penjualan lahan JIIPE sebesar 90-100 hektare sepanjang 2026.

Di tengah pertumbuhan pendapatan, tekanan terhadap margin masih menjadi tantangan. Margin laba kotor konsolidasi semester I-2026 turun menjadi 7,4�ri 9,1% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan tersebut antara lain dipengaruhi tingginya kontribusi bisnis T&D yang memiliki margin lebih rendah serta kerugian sementara dari bisnis SPBU BP-AKR. Perseroan memilih mempertahankan harga jual BBM eceran ketika biaya pengadaan meningkat.

Meski demikian, analis menilai tekanan margin berpotensi membaik seiring normalisasi spread bisnis T&D dan perkembangan bisnis JIIPE.

Melihat capaian semester pertama, manajemen AKRA meningkatkan panduan pertumbuhan laba bersih 2026 menjadi 15%-20% YoY, dari target sebelumnya sebesar 7%-10%.

Selain penjualan lahan, segmen utilitas JIIPE diperkirakan menjadi sumber pendapatan berulang yang semakin penting. Pendapatan utilitas diproyeksikan mencapai sekitar Rp1 triliun pada 2026 dan berpotensi meningkat hingga Rp2 triliun pada 2027 seiring beroperasinya fasilitas pemurnian Freeport dan Xinyi Glass.

Dalam jangka panjang, AKRA juga menyiapkan proyek FSRU LNG dengan nilai investasi sekitar US$450 juta-US$500 juta yang ditargetkan selesai pada 2029.

Dari sisi keuangan, posisi perseroan masih relatif kuat. Arus kas operasi semester I-2026 mencapai Rp3,94 triliun, sementara kas internal tercatat sekitar Rp8,9 triliun. Kondisi ini memberikan ruang bagi AKRA untuk membiayai ekspansi tanpa mengorbankan kebijakan dividen.

Dengan kombinasi pertumbuhan distribusi BBM, ekspansi JIIPE, peningkatan pendapatan utilitas, dan kondisi neraca yang sehat, prospek AKRA dinilai tetap positif.

Maybank Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham AKRA dengan target harga Rp1.850 per saham. Rekomendasi serupa diberikan INA Sekuritas dengan target harga Rp1.850.

Kendati demikian, investor tetap perlu mencermati risiko pelemahan harga komoditas, perlambatan ekonomi, gangguan rantai pasok global, serta persaingan harga di bisnis distribusi energi.

Editor :