klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

DK3P Jatim Usulkan Edukasi K3 Terintegrasi di SMK, Bekal Siswa Sebelum Terjun ke Industri

avatar Abdul Aziz Qomar
  • URL berhasil dicopy

KLIKJATIM.Com | Surabaya – Kesadaran mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dinilai perlu dibangun sejak seseorang masih berada di bangku sekolah. Langkah ini dianggap penting, terutama bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang nantinya lebih dekat dengan lingkungan industri.

Gagasan tersebut disampaikan Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Provinsi Jawa Timur (DK3P Jatim) dalam kegiatan DK3P Goes to School Series 1 di SMKN 5 Surabaya, Kamis (27/8/2026).

Kegiatan bertema Mempersiapkan Generasi SMK Jawa Timur Menjadi Pekerja yang Aman dan Profesional itu diikuti siswa Jurusan Kimia Industri. Mereka mendapatkan pembekalan dasar K3 sebagai persiapan menghadapi Praktik Kerja Lapangan (PKL), magang, hingga memasuki dunia kerja.

Wakil Ketua DK3P Jatim Edi Priyanto mengatakan, pengenalan K3 tidak semestinya menunggu seseorang berstatus sebagai pekerja. Menurutnya, pemahaman mengenai bahaya dan risiko dapat dibentuk sejak lingkungan pendidikan.

“Jangan menunggu seseorang mengalami kecelakaan untuk belajar tentang keselamatan. Dan jangan menunggu mereka menjadi pekerja untuk mengenalkan K3. Kalau kesadaran terhadap bahaya dan risiko sudah menjadi kebiasaan sejak sekolah, ketika masuk dunia kerja mereka sudah membawa budaya keselamatan dalam dirinya,” ujar Edi.

DK3P Jatim, kata dia, akan mengusulkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur agar edukasi K3 dapat diintegrasikan dalam pendidikan tingkat menengah, khususnya SMK.

Integrasi tersebut tidak harus diwujudkan melalui mata pelajaran khusus. Materi K3 dapat disisipkan dalam pembelajaran, kegiatan praktik laboratorium dan bengkel, proyek sekolah, penguatan karakter, maupun pembekalan menjelang PKL dan magang.

Materi yang diberikan juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Mulai dari pengenalan bahaya dan risiko, keselamatan berkendara, keselamatan listrik, pencegahan kebakaran, penggunaan APAR, pertolongan pertama, ergonomi, kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat, kesehatan kerja, hingga pembentukan perilaku keselamatan.

Menurut Edi, langkah tersebut penting karena siswa SMK nantinya akan berhadapan dengan berbagai potensi risiko, seperti mesin, listrik, bahan kimia, peralatan kerja, pekerjaan di ketinggian, maupun aktivitas transportasi.

Bahkan sebelum menjadi pekerja, sebagian siswa sudah bersentuhan dengan lingkungan industri melalui program PKL dan magang.

“Target kita bukan membuat anak-anak menghafal teori K3. Yang lebih penting adalah membangun refleks berpikir mereka: sebelum melakukan sesuatu, apa bahayanya, apa risikonya, dan bagaimana agar saya serta orang di sekitar saya tetap selamat,” katanya.

Ketua Komisi I DK3P Jatim Adithya Sudiarno menambahkan, program DK3P Goes to School diharapkan dapat berkembang dan menjangkau lebih banyak sekolah di berbagai wilayah Jawa Timur.

Menurutnya, sekolah merupakan tempat strategis untuk membangun pengetahuan sekaligus kebiasaan generasi muda. Jika kesadaran K3 sudah terbentuk sejak sekolah, siswa diharapkan tidak memandang keselamatan sekadar sebagai kewajiban ketika berada di perusahaan.

“Pada akhirnya tujuan K3 sangat sederhana. Setiap orang yang berangkat untuk belajar ataupun bekerja, kita ingin mereka dapat kembali pulang ke rumah dalam keadaan sehat dan selamat. Karena di rumah selalu ada keluarga yang menunggu,” ujar Adithya.

Dalam kegiatan tersebut, DK3P Jatim juga menyerahkan bantuan berupa Alat Pemadam Api Ringan (APAR) dan perlengkapan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) kepada SMKN 5 Surabaya. Bantuan diserahkan Karto Tri Sasmito, anggota Komisi I DK3P Jatim.

Pihak sekolah menyambut positif pembekalan tersebut. Wakil Kepala SMKN 5 Surabaya Maulidijana Isneniwaty mengatakan, pemahaman K3 menjadi bagian penting dari kesiapan siswa sebelum memasuki dunia profesional.

“Anak-anak tidak cukup hanya dibekali keterampilan teknis. Mereka juga harus memahami bagaimana bekerja dengan benar dan aman. Edukasi seperti ini membantu siswa memahami bahwa keselamatan bukan hanya aturan ketika berada di perusahaan, tetapi kebiasaan yang harus mulai dibangun sejak sekolah,” ujarnya.

Guru Kimia Industri SMKN 5 Surabaya Nanda Luktinia Firial menilai materi K3 yang diberikan relevan bagi siswa, terutama menjelang pelaksanaan PKL. Menurutnya, pemahaman mengenai potensi bahaya dan prosedur keselamatan dapat membantu siswa lebih siap ketika berada di lingkungan industri.

Sementara itu, salah seorang siswa mengaku mendapatkan pemahaman baru setelah mengikuti kegiatan tersebut. Selama ini, K3 menurutnya identik dengan penggunaan alat pelindung diri.

“Awalnya saya mengira K3 itu hanya soal memakai helm, sepatu safety atau APD ketika bekerja. Ternyata yang paling penting justru bagaimana kita mengenali bahaya sebelum terjadi kecelakaan,” katanya.

DK3P Jatim menilai pembentukan budaya keselamatan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Selain Pemprov Jatim dan Dinas Pendidikan, kolaborasi juga diperlukan dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, sekolah, dunia usaha dan dunia industri, perguruan tinggi, serta praktisi K3.

Melalui program DK3P Goes to School, edukasi K3 diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi. Lebih jauh, program tersebut diarahkan untuk membentuk generasi muda yang memiliki kompetensi sekaligus kesadaran keselamatan sebelum memasuki dunia kerja.

Dengan demikian, siswa yang nantinya menjadi pekerja tidak hanya mampu menyelesaikan pekerjaan secara profesional, tetapi juga memahami cara bekerja dengan aman dan menjaga keselamatan dirinya maupun orang di sekitarnya.

Editor :