klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Harga Minyakita Tembus Rp23 Ribu per Liter di Jember, Ini Penyebabnya

avatar Muhammad Hatta
  • URL berhasil dicopy
Harga Minyakita Tembus Rp23 Ribu per Liter di Jember. (Hatta/Klikjatim.com)
Harga Minyakita Tembus Rp23 Ribu per Liter di Jember. (Hatta/Klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Jember – Kenaikan harga minyak goreng rakyat merek Minyakita di sejumlah pasar di Kabupaten Jember, Jawa Timur, menjadi sorotan setelah harganya melonjak jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).

Di tingkat pedagang, harga Minyakita kemasan satu liter kini berkisar antara Rp21 ribu hingga Rp23 ribu per liter. Padahal, HET yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp15.700 per liter.

Yuna Rika, pemilik toko kelontong di Desa Dawuhan Mangli, Kecamatan Sukowono, mengatakan kenaikan harga terjadi secara bertahap dalam beberapa waktu terakhir.

Ia menyebut sebelumnya harga Minyakita masih berada di kisaran Rp18 ribu per liter. Namun kini sudah menyentuh Rp21 ribu hingga Rp22 ribu, bahkan ada pedagang lain yang menjual hingga Rp23 ribu per liter.

“Sekarang kemasan satu liter Minyakita harganya antara Rp21 ribu sampai Rp22 ribu. Sebelumnya sekitar Rp18 ribu. Bahkan ada juga pedagang lain yang jual Rp23 ribu,” ujarnya saat dikonfirmasi wartawan, Kamis (23/4/2026).

Menurut Yuna, kenaikan harga di tingkat pengecer dipicu mahalnya harga kulakan dari distributor. Ia mengaku harus membeli satu dus berisi 12 kemasan satu liter dengan harga sekitar Rp240 ribu.

Dengan kondisi tersebut, margin keuntungan pedagang menjadi sangat terbatas jika mengikuti harga pasar.

“Satu karton isi 12 itu saya kulaknya Rp240 ribuan,” katanya.

Di tengah kenaikan tersebut, Yuna memilih menjual alternatif minyak goreng bermerek lain yang dinilai masih diminati pembeli meski harganya relatif lebih tinggi.

Ia membeli minyak merek tersebut seharga Rp21.600 per liter dan menjual kembali Rp22.500 per liter. Sementara untuk minyak curah, Yuna mengaku tidak lagi menjualnya karena keterbatasan tempat penyimpanan serta harga yang ikut naik.

“Minyak curah saya tidak jual, selain karena tempatnya tidak ada, sekarang juga mahal. Pembeli lebih minat merek lain, saya jual Minyak Fortune. Itu banyak yang minat,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perdagangan Kabupaten Jember, Sartini, menjelaskan kenaikan harga Minyakita dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya meningkatnya harga bahan baku kemasan plastik yang berdampak langsung terhadap harga jual di pasaran.

Ia menyebut, berdasarkan hasil pemantauan di 30 pasar tradisional di Jember, rata-rata harga Minyakita saat ini berada di angka Rp18.570 per liter.

“Kenaikan ini salah satunya karena harga plastik kemasan meningkat, bahkan hampir mendekati 100 persen,” jelasnya.

Selain faktor kemasan, Sartini juga menyoroti regulasi baru pemerintah melalui Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 43 Tahun 2025 yang mewajibkan seluruh pelaku usaha distribusi Minyakita memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB).

Aturan tersebut dinilai menjadi salah satu penyebab terbatasnya distribusi minyak kepada pedagang yang belum memiliki NIB, sehingga berdampak pada kenaikan harga di tingkat konsumen.

“Pedagang yang tidak punya NIB tidak bisa mendapatkan pasokan dari Bulog, sehingga barang menjadi terbatas dan harga naik,” ungkapnya.

Ia menambahkan, di lapangan masih banyak pedagang yang belum memiliki NIB karena keterbatasan akses teknologi, seperti tidak memiliki ponsel pintar atau email aktif.

Pemerintah daerah, kata dia, telah berupaya memfasilitasi pembuatan NIB bagi pedagang, namun belum sepenuhnya berjalan optimal.

“Kami sudah fasilitasi, tapi kendalanya ada yang tidak punya HP atau email. Ini yang sedang kami dorong agar bisa segera dipenuhi. Anaknya kan pasti punya HP Android, jadi bisa membantu,” katanya.

Sebagai langkah antisipasi, Sartini menyarankan masyarakat mempertimbangkan penggunaan minyak curah sebagai alternatif, dengan catatan kualitasnya tetap diperhatikan. Ia juga mendorong warga membawa wadah sendiri saat membeli minyak curah untuk mengurangi ketergantungan pada kemasan plastik.

“Minyak curah bisa jadi solusi. Masyarakat bisa membawa wadah sendiri dari rumah, selain lebih hemat juga mengurangi penggunaan plastik,” pungkasnya.

Editor :