KLIKJATIM.Com | Bojonegoro - H. Abdul Rozaq tampil sebagai salah satu figur muda yang siap mengabdikan diri untuk memimpin Desa Lebaksari, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro melalui kontestasi Pemilihan Kepala Desa Pergantian Antar Waktu (PAW).
Dikenal sebagai pribadi yang aktif, progresif, dan berintegritas, H. Abdul Rozaq memiliki rekam jejak panjang dalam dunia organisasi, baik di tingkat desa, daerah, hingga nasional. Komitmennya terhadap pemberdayaan masyarakat telah terasah sejak usia muda.
Perjalanan kepemimpinannya dimulai dari organisasi pelajar, yakni IPPNU Ranting Lebaksari. Semangat pengabdian itu terus tumbuh saat dirinya dipercaya memimpin Karang Taruna Desa Lebaksari, menjadi motor penggerak kegiatan kepemudaan dan sosial kemasyarakatan.
Saat menempuh pendidikan di IAIN Sunan Ampel Surabaya, kapasitas kepemimpinannya semakin matang. Ia pernah mengemban amanah sebagai Ketua Komisariat PMII Syariah, Sekretaris Cabang PMII Surabaya Selatan, hingga Ketua Jurusan Siyasah Jinayah. Tidak berhenti di situ, ia juga dipercaya menduduki jabatan strategis sebagai Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) serta Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).
Pengaruh dan jejaringnya meluas ketika ia didapuk sebagai Ketua Forum Komunikasi Mahasiswa Bojonegoro se-Indonesia, yang mempertegas kiprahnya dalam menyatukan gagasan dan aspirasi generasi muda.
Di bidang keagamaan dan sosial, H. Abdul Rozaq saat ini menjabat sebagai Ketua Ansor Ranting Lebaksari. Peran ini semakin memperkuat kedekatannya dengan masyarakat serta konsistensinya dalam kegiatan sosial-keagamaan.
Selain itu, ia juga menekuni dunia usaha sebagai seorang wirausahawan, yang mencerminkan kemandirian, keberanian, serta kemampuan dalam mengelola potensi ekonomi.
Berbekal pengalaman, jaringan, serta semangat pengabdian yang kuat, H. Abdul Rozaq hadir dengan visi membawa Lebaksari menuju desa yang maju, mandiri, dan berdaya saing. Ia berkomitmen menghadirkan tata kelola pemerintahan desa yang transparan, partisipatif, serta berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Sebagaimana nilai kepemimpinan yang ia yakini:
Pemimpin yang bijak bukan hanya yang berkuasa, namun yang memimpin dengan hati penuh cinta. Mendengar suara hati rakyat yang bersuara, serta memberi teladan dalam tiap langkah dan kata. Ia bukan raja yang duduk di atas takhta, melainkan pelayan yang merendah dan mengabdi sepenuh jiwa.
Dengan keberanian, ia menghadapi segala rintangan, membimbing masyarakat menuju kedamaian yang sejati. Pemimpin sejati mampu memberi arah, tetap teguh di tengah badai, serta menyatukan perbedaan menjadi kekuatan.
Bukan sekadar mengatur, tetapi juga menginspirasi. Menyalakan semangat dalam hati, menciptakan perubahan dengan ketulusan. Sebab pemimpin sejati bukan dinilai dari kekuasaan, melainkan dari kemampuannya membawa harapan dan menjadi cahaya bagi sesama.
Editor : Wahyudi