klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Pabrik Gula GMM Belum Beroperasi, Bupati Apresiasi PT SGN yang Siap Selamatkan Tebu Petani Blora

avatar Much Taufiqurachman Wahyudi
  • URL berhasil dicopy
PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) bergerak cepat menyelamatkan hasil panen tebu petani di Kabupaten Blora yang terdampak belum beroperasinya Pabrik Gula Gendhis Multi Manis (PG GMM).
PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) bergerak cepat menyelamatkan hasil panen tebu petani di Kabupaten Blora yang terdampak belum beroperasinya Pabrik Gula Gendhis Multi Manis (PG GMM).

KLIKJATIM.Com | Blora – PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) menegaskan komitmennya untuk menyerap hasil panen tebu petani di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Langkah taktis ini diambil guna menyelamatkan hasil bumi para petani di tengah situasi darurat akibat belum beroperasinya Pabrik Gula Gendhis Multi Manis (PG GMM).

Kepastian penyerapan tebu tersebut dicapai dalam pertemuan koordinasi antara perwakilan Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), petani tebu Blora, dan jajaran manajemen PG Rendeng PT SGN pada Kamis (28/5/2026).

Dalam kesempatan tersebut, PT SGN melalui PG Rendeng menyatakan kesiapannya untuk menampung tebu petani Blora dengan kapasitas sekitar 150 hingga 200 rit per hari agar tebu tidak terlambat digiling yang berpotensi menurunkan kadar rendemennya.

Perwakilan Regional Head 1 Jawa Tengah PT SGN, Edy Purnomo, menjelaskan bahwa komitmen penyelamatan ini tidak hanya bertumpu pada PG Rendeng semata. Menyadari kompleksnya situasi di lapangan, pihaknya membuka opsi penyaluran ke sejumlah pabrik gula (PG) lain di bawah bendera SGN.

“PT SGN berkomitmen juga menyerap tebu petani Blora melalui beberapa PG SGN terdekat di Madiun dan Jawa Tengah, secara bertahap sesuai jadwal gilingnya dan berkoordinasi dengan PG GMM maupun Bulog,” ujar Edy Purnomo dalam audiensi bersama Bupati Blora dan jajaran Forkopimda di Pendopo Kabupaten Blora.

Di sisi lain, Edy mengakui adanya tantangan logistik yang harus dihadapi petani, terutama mengenai jarak angkut. Jarak dari PG GMM ke PG Rendeng terpaut sekitar 70 kilometer, yang otomatis memicu pembengkakan biaya armada distribusi. Merespons hal tersebut, pihak APTRI meminta skema nilai bagi hasil dan penyesuaian jaminan rendemen yang kompetitif sesuai ketetapan pemerintah agar petani tidak merugi.

Sementara itu, Direktur Operasional PT SGN, Kuntoro Boga Andri, menegaskan kehadiran BUMN gula ini adalah wujud solusi nyata untuk menjaga stabilitas produksi gula nasional di tengah kendala operasional yang ada.

“Kami terus melakukan koordinasi lintas pabrik gula untuk mengatur kapasitas giling dan distribusi tebu secara bertahap sehingga pelayanan kepada petani tetap berjalan optimal,” kata Kuntoro.

Langkah sigap yang diinisiasi oleh PT SGN ini mendapat apresiasi tinggi dari Pemerintah Kabupaten Blora. Demi mempercepat realisasi penyerapan di lapangan, Bupati Blora langsung menginstruksikan Kepala Dinas Pertanian (Kadisperta) Blora untuk segera melakukan pemetaan estimasi volume tebu petani secara mendetail.

Bupati meminta jajarannya mendata sebaran tebu mulai dari tingkat kecamatan hingga kelurahan agar seluruhnya dapat diakomodasi secara rapi oleh sistem distribusi PT SGN. Bersama jajaran Forkopimda, bupati mendorong agar proses tebang, angkut, dan giling massal ini berjalan cepat guna menghindari penumpukan tebu di lahan yang memicu penurunan kualitas nira dan kerugian ekonomi sepihak bagi petani.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, Jawa Tengah merupakan salah satu pilar sentra produksi tebu nasional, di mana Kabupaten Blora memegang potensi tebu rakyat yang cukup masif. Sinergi darurat antara pemkab, petani, dan PT SGN ini diharapkan menjadi instrumen penting penyokong rantai pasok tebu konsumsi di tengah target akselerasi swasembada gula nasional. 

Editor :