KLIKJATIM.Com | Jember – Perjalanan Thomas Kipkorir Maritim, seorang pelari profesional asal Kenya, ke Kabupaten Jember berakhir di luar dugaan. Datang jauh-jauh untuk mengikuti event lari 10 kilometer yang diselenggarakan oleh event organizer (EO) lokal di Jember pada Minggu (18/6/2026) lalu, Thomas mengaku berhasil finis di posisi terdepan sebagai juara pertama.
Namun, harapan membawa pulang hadiah uang pembinaan sirnah seketika setelah pihak panitia menyatakan bahwa hadiah podium hanya diperuntukkan bagi peserta Warga Negara Indonesia (WNI). Imbas hal tersebut, Thomas kehabisan bekal hingga sempat terlantar dan kesulitan untuk melanjutkan perjalanan pulang.
Thomas menceritakan bahwa dirinya memperoleh informasi event tersebut melalui media sosial Instagram. Sebelum mendaftar, ia mengklaim telah mengonfirmasi langsung via pesan WhatsApp kepada panitia mengenai keikutsertaan peserta asing dan mendapat lampu hijau.
"I got information in Instagram. Then I text WhatsApp for race organizer. Then I ask the race organizer, 'Is it allowed for foreigners to come and run?' They said, 'Yes, you can come,'" (Saya mendapat informasi dari Instagram. Kemudian saya menghubungi panitia melalui WhatsApp dan bertanya apakah warga negara asing boleh mengikuti lomba. Mereka menjawab, "Ya, Anda boleh ikut."), ujar Thomas saat dikonfirmasi di Jember, Selasa (21/6/2026) malam.
Tiba di Jember pada Jumat sebelum event, Thomas menginap di hotel dan mengikuti perlombaan pada hari Minggu. Ia menegaskan telah menuntaskan rute sesuai aturan dan mencapai garis finis di urutan terbawah. Namun saat prosesi penganugerahan pemenang, namanya tidak dipanggil.
"Yes, I won the competition. But race organizer changed again. They said they will not pay foreigners. They will pay only the Indonesians. They refused to pay me money," (Ya, saya memenangkan perlombaan. Tetapi panitia kemudian mengubah aturan dan mengatakan tidak akan memberikan hadiah kepada warga negara asing. Mereka hanya memberikan hadiah kepada peserta Indonesia. Mereka menolak memberikan hadiah uang kepada saya.), keluhnya.
Guna mencari keadilan, Thomas sempat mendatangi Polsek Kaliwates untuk melakukan mediasi. Dalam proses mediasi tersebut, panitia berpatokan pada aturan resmi yang telah dipublikasikan bahwa podium juara hanya berlaku untuk WNI. Sebaliknya, Thomas merasa tidak pernah menerima pemberitahuan mengenai pembatasan tersebut saat berkomunikasi awal.
"If you are a winner without cheating, without shortcut, if you follow the correct route, you will be a winner. But panitia never recognized us. They cancelled our names and gave our position to Indonesian athletes," (Jika seseorang menjadi pemenang tanpa berbuat curang dan mengikuti seluruh rute dengan benar, maka dialah pemenangnya. Namun panitia tidak mengakui kami. Nama kami dicoret dan posisi kami diberikan kepada atlet Indonesia.), ungkap Thomas pilu.
Situasi kian pelik setelah tas berisi uang tunai dan barang pribadi milik Thomas dilaporkan hilang di lokasi acara. Kendati paspornya aman tersimpan di hotel, ia sama sekali tidak memiliki dana sisa untuk biaya hidup maupun bertolak menuju Jakarta.
Melihat penderitaan pelari asing tersebut, Enos Arif Wawanda, warga Desa Petung, Kecamatan Bangsalsari, tergerak untuk menampung Thomas sementara di rumahnya. Informasi ini lantas diteruskan kepada adiknya, seorang selebgram asal Jember, Nanda Puspita Sari, yang langsung menggalang kepedulian sosial.
Nanda menegaskan bahwa kasus yang menimpa Thomas sudah melampaui sengketa perlombaan dan murni persoalan kemanusiaan.
"Begitu saya mengetahui kondisinya, yang ada di pikiran kami bukan lagi soal menang atau kalah lomba. Yang terpenting bagaimana Thomas bisa melanjutkan perjalanan dengan aman. Dia sendirian di Jember, tidak memiliki cukup uang, dan mengalami kendala bahasa. Kami tidak mungkin membiarkannya menghadapi situasi itu seorang diri," tegas Nanda.
Nanda lantas berkoordinasi dengan relawan penerjemah, Riana Andrian, serta menggandeng DPC PDI Perjuangan Kabupaten Jember melalui Wakil Ketua Bidang Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata, Ayu Fitriananda. Melalui aksi gotong royong tersebut, kebutuhan biaya operasional Thomas menuju Jakarta akhirnya dapat ditanggulangi.
Atas uluran tangan warga Jember, Thomas tak mampu menyembunyikan rasa harunya.
"I appreciate everyone who helped me. They gave me a place to stay, food, and helped me continue my journey. Thank you, Jember," (Saya sangat menghargai semua orang yang telah membantu saya. Mereka memberi saya tempat tinggal, makanan, dan membantu saya melanjutkan perjalanan. Terima kasih, Jember.), tuturnya.
Kini, Thomas telah diberangkatkan dari Terminal Tawangalun Jember menuju Jakarta menggunakan bus antarprovinsi. Dari ibu kota, Thomas dijadwalkan menemui kerabatnya sebelum bertolak kembali ke Kenya via penerbangan internasional.
Editor : Fatih