Mengunjungi Satu-satunya Perkampungan di Singapura, Seperti Apa?

Reporter : Redaksi - klikjatim

foto: Satu-satunya perkampungan di Negara Singapura. (Koinul/klikjatim.com)

Sejumlah wartawan yang tergabung dalam PWI Gresik, Jawa Timur mendapat support istimewa dari Singapore Tourism Board (STB). Dalam rangka Hari Pers Nasional (HPN) kali ini mereka mendapat kesempatan menyusuri perkotaan untuk berkunjung ke beberapa destinasi wisata, hingga sebuah perkampungan terakhir di The Lion City alias Kota Singa, pada 23 Februari 2019.

Oleh Koinul Mistono, Singapura

TEPAT pukul 7 pagi waktu setempat rombongan menginjakkan kaki di Pelabuhan Harbour Front Singapura. Setelah melewati proses imigrasi nampak dari kejauhan seorang laki-laki bertopi yang sudah menunggu di luar. Dia adalah Mr Suhaimi, tourist guide yang diutus mendampingi kegiatan media trip selama di Negara seribu satu larangan—julukan lain untuk Singapura—tersebut.

Langkah kaki peserta media trip mengikuti sang guide menuju bus, sebelum akhirnya memulai perjalanan menyusuri perkotaan Singapura. “Di sini saya minta kerjasamanya dari teman-teman semua ya. Ini adalah Singapura yang mempunyai banyak aturan dan bagi yang melanggar dapat dikenakan denda,” ujar guide dari keturunan Melayu itu.

Saat berada di dalam bus, ia berpesan kepada rombongan agar tidak makan dan minum. Jika ketahuan melanggar bisa didenda. Selain touristnya sendiri, guide dan sopir bus juga ikut kena denda.

[irp]

“Khususnya bagi ahli hisab (merokok, red) jangan merokok sembarangan. Tanyakan ke saya dan nanti akan saya tunjukkan mana tempat-tempat yang diperbolehkan untuk merokok,” tambahnya dalam perjalanan menyusuri gedung-gedung pencakar langit menuju lokasi patung singa (Merlion Park).

Peserta media trip telah diajak city tour berkeliling ke ikon-ikon wisata andalan di Singapura. Selain ke Merlion Park, juga ke Masjid Agung Sultan, Kampung Bugis, Garden by the Bay (taman bunga terindah dan terbesar), Helix Bridge, Eksotika Bangunan Cagar Budaya (heritage), pertunjukan waterlight fountain (tarian laser dan air mancur), hingga mengunjungi satu-satunya perkampungan di negara tersebut.

foto: Suasana menuju perkampungan Lorong Buangkok. (koinul/klikjatim.com)

Lorong Buangkok adalah desa dengan akar budaya Melayu asli. Satu-satunya kampung yang masih tersisa di Singapura. Berbeda dengan wajah negeri dengan peradaban serba modern dan serba tertib.

Perkampungan berjarak sekitar 10 km dari pusat kota itu menawarkan eksotika lain. Kontras dengan kegagahan Singapura. Jalanan masih berupa makadam. Kicau burung, hingga pepohonan khas kampung halaman masih dijumpai.

[irp]

Lorong Buangkok dikenal sebagai desa terakhir (the last village) di Singapura. Luas wilayahnya tidak lebih dari 2 hektare. “Dulu nama kampung ini dikenal dengan Kampung Selak Kain,” kata Mr Suhaimi.

Selak artinya menyincing atau mengangkat. Jadi, selak kain maksudnya mengangkat kain atau pakain (ROK, red). Disebut selak kain karena Lorong Buangkok merupakan perkampungan yang kerap banjir. Para penghuninya selalu mengangkat rok saat banjir datang.

[irp]

Menyusuri gang-gang kampung, terlihat beragam jenis pepohonan tumbuh subur. Seperti mangga, tebu, aneka jambu, pepaya, kelapa, singkong, asam, mengkudu, hingga tanaman berbunga seperti bunga sepatu. Rumah warga juga masih sangat tradisional. Berdinding papan kayu. Beratap seng. Termasuk bangunan musalahnya.

Walaupun wajah rumah-rumahnya sangat tradisional, namun beberapa mobil bermerek terlihat. Terparkir di depan sejumlah pekarangan. “Sebagian dari anak-anak mereka tidak tinggal di sini, tetapi memilih di Kota dan bekerja di perkantoran. Kemudian setiap hari Sabtu dan Minggu selalu pulang ke sini. Ada juga yang menjadi guru, polisi, dan pekerjaan lain,” paparnya.

Warga yang tinggal di Lorong Buangkok berasal dari beragam etnis. Termasuk dari keturunan Bawean, Gresik, Jawa Timur. Salah seorang di antaranya adalah Awaluddin. Saat ini, masih ada keluarganya yang tinggal di Bawean. Dia sudah lebih dari 50 tahun menetap di kampung setempat.

foto: Musala di perkampungan Negara Singapura. (koinul/klikjatim.com)

Kata Suhaimi, di kampung tersebut hanya ada 40 rumah. Mereka dari latar belakang agama berbeda. Sebagian dari mereka beragama Islam. Terutama yang berasal dari etnis Melayu. Karena itu, ada musala untuk kepentingan berjamaah salat para warga Muslim.

[irp]

Di papan nama, terpampang musala atau surau bertuliskan Al Firdaus. Yang unik, di sudut musala ada sebuah kentongan kayu. “Perkampungan ini memang sengaja dipertahankan seperti ini dan seringkali menjadi kunjungan wisatawan. Terutama dari kalangan pelajar sebagai sarana edukasi,” terangnya.

Adapun diketahui, wisatawan asal Indonesia menduduki peringkat ke dua dari daftar wisatawan mancanegara terbanyak ke Singapura pada 2018 lalu. Sesuai data STB (Singapore Tourism Board), tercatat 3,02 juta wisatawan asal Indonesia dari total jumlah wisatawan ke Singapura sebanyak 18,5 juta kunjungan. Atau, rata-rata 251 ribu per bulan.

Angka ini naik 2 persen dibanding 2017 lalu. Sedangkan di urutan pertama adalah wisatawan asal Tiongkok dengan jumlah 3,42 juta wisatawan pada 2018. (*)