klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Medayu Agung Surabaya,  Merawat Arsip Sejarah di Tengah Pandemi

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy
Oie Him Hwie pemilik Perpustakaan Medayu Agung yang juga seorang jurnalis. Arifin/klikjatim.com
Oie Him Hwie pemilik Perpustakaan Medayu Agung yang juga seorang jurnalis. Arifin/klikjatim.com

KLIKJATIM.Com | Surabaya-  Perpustakaan Medayu Agung Surabaya mengalami kesulitan operasional dalam dua tahun terakhir.

Kesulitan ini semakin parah sejak munculnya pandemi Covid-19. Sebagian donatur menghentikan donasinya.

[irp]

Seketaris perpustakaan Sinta Devi mengatakan koleksi perpustakaan Medayu Agung ini digratiskan untuk dibaca oleh pengunjung.

Untuk membayar pekerja dan perawatan buku dan arsip mengandalkan dana dari para donatur.  “Kami juga harus mengaji karyawan,  perawatan buku,” ungkap Sinta Devi.

Perpustakaan Medayu Agung  memiliki banyak koleksi literasi kuno terbitan pertengahan abad-19 hingga awal abad 20. Buku-buku itu diterbitkan dengan berbagai bahasa,  bahasa Belanda , Inggris, Melayu,Melayu dan Jerman.

[irp]

Pemilik perpustakaan Oie Him Hwie Oei juga punya beberapa buku sejarah Surabaya, mulai buku terbitan Belanda seperti Er Verd Eenstad Geboren, Oud Soerabaia hingga Niew Soerabaia. Ketiga buku itu berisi sejarah awal Surabaya dan ditulis oleh G. H Von Faber.

Koleksinya tentang sejarah Surabaya juga mendapatkan “Surabaya Academy Award 2004” dari Board of Surabaya Academy.

Terdapat ruangan khusus yang menyimpan koleksi terkait Bung Karno dan karya Pramudya Ananta Toer. Ruangan tersebut diberi label Ruangan Buku Langka.

Tahun 1999 lalu, Charles Coppel  dari University of Melbourne Australia pernah mendatangi pemilik perpustakaan Oie Him Hwie. Dia menawar seluruh koleksinya seharga Rp 1 miliar.

Semua koleksi Oie akan dijadikan pusat studi Indonesia di Australia kala itu. Namun Oie menolak. Alasannya,  khawatir bukti-bukti sejarah  dipelintir.

[irp]

Ketua Perpustakaan Medayu Agung Surabaya King Gaudi  membenarkan  donatur yang membatu perpustakaan ini semakin hari semakin menurun.

“Kalo dimasa seperti ini pastinya donatur sendiri kesulitan finansial,” ungkapnya saat ditemu di kantor perpustakaan Rungkut Surabaya.

Perpustakaan tersebut pernah tutup selama satu bulan selama pandemi. Kira-kira satu bulan lebih masa penutupannya. karena sepi pengunjung.

“April- Mei kita tutup,” ungkapnya.

[irp]

Sebelum adanya pandemi covid-19 pengunjung perpustakaan mencapai 20- 30 puluh per harinya. Dan kalo dihitung selama satu bulan, pengunjung mencapai 200 orang.

“ Kalo mahasiswa libur, sepi, misalnya akhir semester. Biasanya sehari itu 10 orang,” ungkapnya.

Namun demikian, pengelola bertekad tidak mennyerah. Mereka berusaha untuk menutupi kekurangan dengan mencari donatur. Banyak pihak yang mendapat manfaat dari keberadaan perpustakaan  ini. Khususnya para mahasiswa. Oie menyimpan tidak kurang dari 30 skripsi dan tesis mahasiswa yang pernah menggunakan perpustakaannya sebagai tempat mencari data.

Beberapa waktu lalu sekelompok mahasiswa Unair( universitas Airlangga) menyerahkan bantuan finansial. “ ya seperti kemarin kita dapat sumbangan dari mahasiswa jurusan sejarah Unair, dari  iuran mereka, ya kita terima,” ungkapnya.

Medayu Agung adalah sebuah perpustakaan umum non-pemerintah yang dikelola oleh yayasan Medayu Agung. Terletak di Perumahan Kosagra Medokan Selatan No 42-44 Surabaya. Perpustakaan ini dibentuk dari pengalaman Oei Hiem Hwie.

Buku yang ada di perpustakaan ini tidak boleh dibawa pulang, tapi bisa dikopi jika memang diperlukan. Pengunjung hanya perlu mengganti uang fotokopi saja. Katalog di perpustakaan ini juga masih manual. ”Dana  yang kami terima belum bisa untuk berbuat terlalu banyak, ya semoga generasi muda nanti mampu membawa perpustakaan ini jauh lebih maju,” pesannya. (rtn)

Editor :