klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Krisis Air Bersih Meluas di Jember, Lima Kecamatan Mulai Terdampak Kekeringan

avatar Muhammad Hatta
  • URL berhasil dicopy
Proses distribusi air bersih dan tandon di wilayah yang mengalami kekeringan di Jember. (Hatta/Klikjatim)
Proses distribusi air bersih dan tandon di wilayah yang mengalami kekeringan di Jember. (Hatta/Klikjatim)

JEMBER – Dampak musim kemarau mulai dirasakan di Kabupaten Jember. Hingga awal Agustus 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember mencatat sedikitnya lima kecamatan terdampak kekeringan, yakni Pakusari, Kalisat, Silo, Jelbuk, dan Bangsalsari.

Dari lima kecamatan tersebut, tiga di antaranya telah menerima distribusi air bersih secara rutin, sedangkan dua kecamatan lainnya masih dalam tahap asesmen untuk menentukan kebutuhan penanganan.

Kepala BPBD Kabupaten Jember, Edy Budi Susilo, mengatakan langkah antisipasi telah dilakukan sejak awal musim kemarau berdasarkan pemetaan potensi kekeringan dari BMKG. Menurutnya, BPBD tidak hanya menunggu laporan masyarakat, tetapi juga aktif memantau wilayah-wilayah yang diperkirakan rawan mengalami krisis air bersih.

"Berdasarkan prediksi BMKG terdapat lima zona merah yang berpotensi mengalami kekeringan. Karena itu kami melakukan pemetaan sejak awal dan langsung bergerak ketika ada laporan dari masyarakat," kata Edy kepada Klikjatim.com, Selasa (4/8/2026).

Ia menjelaskan, distribusi air bersih dilakukan setiap dua hari sekali dengan kapasitas sekitar 5.000 liter untuk setiap lokasi terdampak. Hingga kini, BPBD telah menyalurkan bantuan sebanyak 14 kali di Kecamatan Pakusari dan 12 kali di Kecamatan Kalisat. Sementara itu, Kecamatan Silo mulai menerima distribusi air bersih sejak awal Agustus.

"Di Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, terdapat 85 kepala keluarga yang terdampak. Sumur warga sudah mengering sehingga mereka harus menempuh sekitar tiga kilometer untuk mendapatkan air. Sebagai penanganan awal, kami menyalurkan empat tandon dan 5.000 liter air bersih," ujarnya.

Sementara itu, BPBD masih melakukan asesmen di Kecamatan Jelbuk dan Bangsalsari guna memastikan jumlah warga terdampak serta kebutuhan air bersih yang harus dipenuhi.

Menghadapi puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga September atau Oktober, BPBD terus meningkatkan kesiapsiagaan. Tim Reaksi Cepat (TRC) diterjunkan untuk melakukan patroli ke wilayah-wilayah yang diprediksi rawan kekeringan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

"Kami tidak hanya menunggu laporan. Tim rutin melakukan patroli ke desa-desa yang diperkirakan rawan kekeringan. Stok air bersih dan tandon juga kami pastikan mencukupi agar distribusi kepada masyarakat dapat berjalan tanpa hambatan," tegas Edy.

Ia juga mengimbau pemerintah desa maupun masyarakat agar segera melaporkan apabila mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih.

"Semakin cepat laporan kami terima, semakin cepat pula bantuan bisa kami salurkan kepada warga," pungkasnya.

Editor :