KLIKJATIM.Com | Jakarta -Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik menjadi salah satu motor penggerak investasi baru di Indonesia setelah berhasil menarik rencana investasi senilai US$600 juta dari PT GEABH Joint Technology untuk pembangunan pabrik melamin pertama dan terbesar di Tanah Air.
Capaian tersebut turut memperkuat kinerja investasi kawasan ekonomi khusus secara nasional yang pada semester I/2026 mencapai Rp32 triliun.
Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) mencatat realisasi investasi sebesar Rp32 triliun pada semester I/2026. Nilai tersebut didominasi penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp24 triliun dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp8 triliun, sekaligus menciptakan 34.162 lapangan kerja baru.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sekaligus Ketua Tim Pelaksana Dewan Nasional KEK, Susiwijono Moegiarso, mengatakan iklim investasi harus terus dijaga agar tetap kondusif.
"Kepercayaan investor tidak hanya dibangun melalui insentif, tetapi juga melalui kepastian regulasi, penyelesaian hambatan secara cepat, dan komunikasi yang konsisten antara pemerintah dengan dunia usaha," ujar Susi dalam pernyataan resmi yang diterima pada Minggu (2/8/2026).
Secara kumulatif sejak 2012 hingga 28 Juli 2026, realisasi investasi di seluruh KEK telah mencapai Rp368 triliun dari 444 badan usaha dan pelaku usaha, dengan total penyerapan tenaga kerja sebanyak 283.234 orang.
Dewan Nasional KEK juga menyiapkan arah strategis pengembangan kawasan sebagai fondasi peningkatan daya saing investasi nasional melalui penguatan ekosistem hilirisasi industri, ekonomi digital, pariwisata, pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia.
Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manansang, mengatakan KEK terus memperkuat perannya sebagai salah satu kontributor transformasi ekonomi nasional.
"Capaian strategis periode ini mencakup penguatan hilirisasi industri, advanced manufacturing, layanan kesehatan internasional, hingga penyiapan ekosistem energi hijau yang berkelanjutan," kata Rizal.
Menurut Rizal, komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai proyek strategis di sejumlah KEK. Salah satunya di KEK Gresik yang berhasil menarik rencana investasi US$600 juta dari PT GEABH Joint Technology untuk membangun pabrik melamin pertama dan terbesar di Indonesia dengan kapasitas produksi 120.000 ton per tahun.
Selain Gresik, KEK Sei Mangkei juga mencatat realisasi investasi US$130 juta dari PT Evyap Sabun Indonesia di sektor hilirisasi kelapa sawit. Sementara itu, KEK Kendal memulai pembangunan pabrik PT Hoi Fu senilai Rp1,12 triliun yang diproyeksikan menyerap sekitar 1.000 tenaga kerja, sedangkan KEK Industropolis Batang memperkuat pengembangan energi hijau melalui kerja sama dengan investor asal Hungaria.
"Arah pengembangan KEK selanjutnya akan diperkuat dengan pendekatan yang lebih menyeluruh, tidak lagi berorientasi tunggal pada nilai investasi, tetapi juga memastikan dampaknya bagi perekonomian nasional dan daerah sekitar kawasan," ujar Rizal.
Wakil Ketua II Tim Pelaksana Dewan Nasional KEK, Budi Santoso, menambahkan keberhasilan KEK tidak hanya diukur dari besarnya investasi yang masuk, tetapi juga dari kontribusinya terhadap penciptaan lapangan kerja, peningkatan nilai tambah, serta manfaat yang dirasakan masyarakat.
"Oleh karena itu, insentif ke depan akan semakin berbasis pada hasil dan dievaluasi secara disiplin," kata Budi.
Pemerintah juga akan mendorong indikator evaluasi yang disesuaikan dengan karakter masing-masing KEK, mulai dari nilai ekspor dan produktivitas untuk KEK industri, jumlah kunjungan wisatawan dan pertumbuhan UMKM untuk KEK pariwisata, hingga penyerapan tenaga kerja terampil pada KEK berbasis digital.
"Pendekatan ini diharapkan memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai kontribusi setiap KEK terhadap perekonomian nasional, sekaligus menjadi dasar bagi penguatan tata kelola dan disiplin evaluasi ke depan," pungkasnya.
Editor : Wahyudi