KLIKJATIM.Com | Surabaya - Cuaca ekstrem berpotensi melanda Jawa Timur menjelang arus mudik Lebaran 2026. Untuk mengantisipasi dampak bencana hidrometeorologi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama BPBD Jawa Timur menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC).
Langkah ini diambil setelah Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda merilis prakiraan adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat pada periode 11–20 Maret 2026.
BMKG memprediksi hujan yang terjadi berpotensi disertai petir dan angin kencang. Kondisi ini dipicu oleh dinamika atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, serta atmosfer yang labil.
Supervisor BMKG Juanda, Alif Kurniawan, menjelaskan bahwa operasi modifikasi cuaca menjadi langkah mitigasi aktif untuk menekan dampak cuaca ekstrem, terutama saat mobilitas masyarakat meningkat menjelang Lebaran.
“OMC ini kami lakukan untuk mengurangi intensitas hujan di wilayah rawan, sehingga risiko banjir dan gangguan perjalanan mudik dapat diminimalkan,” ujarnya.
Risiko Banjir dan Gangguan Arus Mudik
Menurut BMKG, cuaca ekstrem berpotensi memicu berbagai bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, hingga genangan di jalur utama.
Kondisi tersebut dapat mengganggu kelancaran arus mudik, terutama di titik-titik rawan di wilayah Jawa Timur yang kerap terdampak hujan lebat.
Operasi modifikasi cuaca dijadwalkan berlangsung secara intensif hingga 23 Maret 2026 dengan melibatkan berbagai instansi terkait.
Fokus utama OMC adalah mengendalikan pertumbuhan awan hujan agar tidak berkembang secara masif di wilayah dengan aktivitas tinggi.
Selain melakukan OMC, BMKG juga terus memperbarui informasi prakiraan cuaca secara berkala.
Masyarakat, khususnya pemudik, diimbau untuk selalu memantau perkembangan cuaca sebelum melakukan perjalanan jarak jauh.
“Koordinasi dengan BPBD dan instansi lain terus dilakukan agar mudik tahun ini berjalan aman dan lancar, serta masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem,” kata Alif.
Editor : Wahyudi