KLIKJATIM.Com | Gresik – Perayaan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah antara warga Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah diperkirakan berpotensi berbeda.
Perbedaan tersebut dipicu oleh metode penentuan awal bulan Hijriah yang digunakan masing-masing organisasi. Muhammadiyah diprediksi akan menetapkan 1 Syawal 1447 H lebih awal, yakni pada Jumat, 20 Maret 2026. Sementara NU masih menunggu hasil rukyatul hilal serta keputusan sidang isbat pemerintah.
NU menggunakan metode rukyatul hilal, yakni pengamatan langsung terhadap bulan sabit pertama yang dikombinasikan dengan hisab imkanur rukyat. Dalam metode ini, hilal dinyatakan memenuhi syarat apabila memiliki ketinggian minimal 3 derajat di atas ufuk dengan elongasi sekurang-kurangnya 6,4 derajat.
Adapun Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, yaitu penentuan awal bulan berdasarkan perhitungan astronomi tanpa menunggu visibilitas hilal secara langsung.
Dewan Pakar Lembaga Falakiyah NU Gresik, Abdul Muid, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil hisab dan rukyat, posisi hilal pada akhir Ramadan tahun ini belum memenuhi kriteria imkanur rukyat.
“Insya Allah berbeda. Muhammadiyah kemungkinan menetapkan lebih awal, sementara NU tetap menunggu hasil rukyat dan keputusan pemerintah,” ujarnya, Rabu (18/3/2026).
Ia menambahkan, data hisab menunjukkan tinggi hilal di sejumlah wilayah Indonesia masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan.
“Di wilayah Gresik, ketinggian hilal sekitar 1 derajat dengan elongasi kurang lebih 5 derajat, sehingga belum memenuhi kriteria minimum 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat,” jelasnya.
Editor : Abdul Aziz Qomar