KLIKJATIM.Com | Lamongan – Dalam rangka mengoptimalkan daya tampung air dan mendukung pasokan irigasi sektor pertanian, Pemerintah Kabupaten Lamongan bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) bakal segera memulai proyek pengerukan sedimentasi di Waduk Gondang. Penanganan yang mengadopsi metode dredging (pengerukan dengan kapal penyedot lumpur) ini dijadwalkan beroperasi penuh mulai Agustus mendatang.
Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, meninjau langsung proses perakitan dan pemasangan alat dredging di kawasan Waduk Gondang pada Senin (20/7/2026). Ia menuturkan bahwa intervensi teknis ini krusial untuk mengembalikan kapasitas tampung air Waduk Gondang yang terdegradasi akibat penyempitan dan pengendapan sedimen selama bertahun-tahun.
Secara teknis, volume awal Waduk Gondang mampu menampung hingga 25 juta meter kubik air. Namun, akibat laju sedimentasi, kapasitas penampungan saat ini menyusut menjadi 19,7 juta meter kubik.
Penyusutan ini berdampak langsung pada keandalan irigasi hulu. Padahal, potensi jangkauan suplai air Waduk Gondang terbilang vital karena mampu mengairi hingga 10,588 ribu hektar areal persawahan yang tersebar di lima kecamatan, yakni Sugio, Sukodadi, Turi, Kembangbahu, dan Lamongan.
"Pemerintah Kabupaten Lamongan bersama BBWS akan segera memulai pengerukan sedimentasi yang ada di Waduk Gondang menggunakan metode dredging. Waduk Gondang memiliki peran penting terhadap irigasi pertanian, yang mana pertanian merupakan salah satu potensi unggulan di Kabupaten Lamongan," tutur Bupati yang akrab disapa Pak Yes tersebut.
Sementara itu, Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi Kabupaten Lamongan, Erwin Sulistya Pambudi, menjelaskan bahwa pengerukan sedimen sebenarnya merupakan agenda pemeliharaan rutin Pemkab Lamongan. Namun, penggunaan teknologi dredging baru pertama kali ini diterapkan secara khusus di Waduk Gondang.
"Ini adalah pertama kalinya pengerukan di Waduk Gondang menggunakan metode dredging. Pemeliharaan akan terus dilakukan, sembari melihat keefektifan metode ini. Karena pengembalian volume awal Waduk Gondang tentu membutuhkan pemeliharaan beberapa kali," terang Erwin.
Langkah responsif Pemkab Lamongan dan BBWS ini disambut hangat oleh komunitas petani lokal. Ketua Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) Daerah Irigasi (D.I.) Waduk Gondang, Ramijo, menegaskan bahwa kecukupan debit air Waduk Gondang menjadi pilar penentu keberhasilan Musim Tanam (MT) I hingga MT III.
"Dengan adanya pengerukan sedimentasi di Waduk Gondang, volume air akan bertambah sehingga kebutuhan air untuk pertanian akan tercukupi. Karena jika air di Waduk Gondang tidak cukup, maka petani harus mengambil air dari kawasan Bengawan Jero dan tentu membutuhkan biaya operasional yang jauh lebih tinggi," pungkas Ramijo.
Editor : Fatih