klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Obi Kolop dan Jukok Kella Pendeng, Cita Rasa Bawean yang Mengikat Rindu Perantau

avatar Abdul Aziz Qomar
  • URL berhasil dicopy
Obi Kolop (ubi rebus/kukus) dan Jukok Kella Pendeng (Pindang ikan tongkol), kuliner nikmat khas Pulau Bawean Gresik (Dok)
Obi Kolop (ubi rebus/kukus) dan Jukok Kella Pendeng (Pindang ikan tongkol), kuliner nikmat khas Pulau Bawean Gresik (Dok)

KLIKJATIM.Com | Gresik – Kehangatan kampung halaman terasa dari sepanci kukusan ubi dan kuah pindang ikan tongkol yang tersaji di sebuah warung di Jalan Jaksa Agung, Sidokumpul, Gresik. Menu khas Pulau Bawean itu dikenal dengan sebutan Obi Kolop (ubi rebus/kukus) dan Jukok Kella Pendeng atau pindang ikan tongkol.

Sajian tersebut semakin lengkap dengan ikan kering (jukok kerreng) serta sambal mentah khas Bawean yang disebut buje cabbih. Perpaduan rasa sederhana namun kaya makna ini menjadi pengobat rindu sekaligus perekat kebersamaan warga Bawean yang merantau di Kabupaten Gresik.

Satu per satu warga Bawean yang menetap di sekitar Kota Gresik berdatangan. Mereka mengambil mangkuk dan piring, lalu menikmati hidangan sambil berbincang santai tentang kampung halaman. Sekitar belasan orang lintas generasi tampak larut dalam suasana akrab.

Saat kuah pindang diseruput, rasa segar dan gurih langsung terasa, berpadu dengan pedasnya sambal ulekan dan ikan kering. Hidangan ini biasanya identik dengan musim angin barat di Bawean, ketika nelayan berhenti melaut dan hasil tangkapan ikan berkurang, sementara petani pun belum memasuki masa panen. Dalam kondisi itu, obi kolop menjadi alternatif pangan yang diandalkan untuk keluarga maupun suguhan tamu.

“Ini sudah menjadi tradisi di Bawean saat kumpul keluarga atau kerabat, dan tetap kami lestarikan di Gresik. Pendeng jukok tongkol kalaben bikapo obi, atau mangghela istilah Bawean untuk ubi,” ujar Abdul Latif, warga Bawean yang kini menetap di Gresik.

Obi Kolop dan Jukok Kella Pendeng siap makan (Dok)Obi Kolop dan Jukok Kella Pendeng siap makan (Dok)

Bagi warga perantauan, ubi rebus yang disantap bersama pindang tongkol bukan sekadar pengganti nasi. Setiap suapan menghadirkan kenangan masa kecil di tanah kelahiran.

“Alhamdulillah, mantap dan segar. Serasa mengenang masakan dulu di Bawean,” ungkap H. Muhammad Ilyas, salah satu tokoh Bawean di Gresik.

Menurutnya, obi kolop memiliki filosofi ketahanan pangan yang diwariskan leluhur. Di wilayah Bawean, baik di Kecamatan Sangkapura maupun Tambak, makanan ini kerap dibuat saat musim hujan atau angin barat. Bahkan, ada olahan ubi kering yang ditumbuk dalam lesung dan dikenal dengan nama Aruk.

Ia juga menilai kandungan gizi ubi tak kalah dibanding nasi. “Karbohidratnya bahkan lebih baik. Banyak orang Bawean yang sukses hingga tingkat nasional dan internasional, dulunya terbiasa makan obi kolop,” tambahnya.

Sementara itu, H. Subki, mantan anggota DPRD Gresik, menegaskan bahwa obi kolop dan pendeng tongkol bukan hanya soal kuliner khas daerah.

“Ada nilai silaturahmi dan kebersamaan warga Bawean di perantauan. Kebersamaan ini tak bisa diukur dengan harga makanan,” ujarnya.

Melalui sajian sederhana Obi Kolop dan Pendeng Jukok Tongkol, warga Bawean di mana pun berada menunjukkan bahwa identitas budaya tetap terjaga—salah satunya lewat cita rasa yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Editor :