KLIKJATIM.Com | Jember – Sejumlah siswa SMP Negeri 1 Umbulsari, Kabupaten Jember, hingga Jumat (7/2/2026) dilaporkan masih menjalani perawatan medis intensif di puskesmas setempat pasca-insiden dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Tercatat masih ada tiga siswa yang harus dibantu cairan infus guna mencegah dehidrasi setelah sebelumnya ratusan warga sekolah mengalami gangguan pencernaan masif.
Kasus ini bermula dari paket MBG yang didistribusikan pada Rabu (5/2/2026). Gejala klinis baru muncul secara meluas pada Kamis (6/2/2026) pagi, ditandai dengan antrean panjang siswa di toilet sekolah. Kepala SMPN 1 Umbulsari, Mamik Sasmiati, mengonfirmasi bahwa total korban mencapai 112 orang.
“Total ada 112 orang, terdiri dari 99 siswa dan 13 guru, dari total penerima manfaat MBG di sekolah kami sebanyak 912 paket. Keluhan yang muncul bervariasi, mulai dari mual, muntah, hingga diare,” ujar Mamik saat dikonfirmasi di ruang kerjanya.
Salah satu korban, Ferina Ardini, siswa kelas IX F, menceritakan kejanggalan pada menu ayam bakar yang dikonsumsinya. Meski rasanya enak, ia melihat bagian daging ayam masih tampak berdarah.
“Besoknya, Kamis, saya sudah merasa mules sebelum berangkat sekolah. Pulangnya sakit perut sekali sampai BAB dan merasa lemas, lalu dibawa ke puskesmas,” kata Ferina dari tempat perawatannya.
Menanggapi kejadian ini, Satgas MBG Kabupaten Jember melakukan inspeksi mendadak ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Umbulsari Yayasan Baitul Huda Amanah.
Penjabat (Pj.) Sekda Jember, Akhmad Helmi Luqman, mengungkap bahwa SPPG tersebut baru beroperasi selama dua minggu dan ditemukan melanggar prosedur operasional standar (SOP), terutama terkait kewajiban sampling makanan.
“Kami hadir atas perintah pimpinan, Bapak Bupati dan BGN, untuk melakukan cek lapangan sekaligus pembinaan. SPPG harus disiplin melaksanakan SOP, dan yang dilewati oleh mereka adalah sampling. Seharusnya dua hari sebelum distribusi sudah ada sampling, tapi ini tidak dilakukan,” tegas Helmi usai melakukan sidak.
Ketiadaan sampel makanan ini menyulitkan penelusuran penyebab pasti, sehingga petugas kesehatan terpaksa mengandalkan sisa muntahan korban untuk uji laboratorium. Helmi juga menambahkan bahwa dokumen Surat Layak Higienis Sanitasi (SLHS) penyedia jasa tersebut ternyata masih dalam proses.
“Ini menjadi pembelajaran agar ke depan kualitas layanan makanan bergizi lebih ketat. SPPG ini juga masih baru, baru sekitar dua minggu beroperasi, sehingga kami berikan peringatan tertulis agar disiplin terhadap SOP,” tambahnya.
Saat ini, distribusi MBG di SMPN 1 Umbulsari dihentikan sementara selama satu pekan untuk proses pemulihan siswa dan evaluasi menyeluruh. Pihak Satgas mengancam akan memberikan sanksi lebih berat jika pelanggaran serupa terulang kembali di masa mendatang.
Editor : Fatih