KLIKJATIM.Com | Mataram — Malam itu, Kampung Adat Sade tidak lagi diterangi lampu-lampu rumah tradisional yang selama ini menjadi pemandangan akrab bagi wisatawan. Sabtu (22/8) malam, api justru menyala dan dengan cepat melahap rumah-rumah adat yang menjadi bagian dari wajah budaya Lombok Tengah.
Dalam waktu kurang dari satu jam, sebagian besar kawasan Kampung Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, berubah menjadi puing.
Kebakaran yang terjadi sekitar pukul 22.00 Wita itu tidak menelan korban jiwa maupun menyebabkan luka-luka. Namun, ratusan warga harus kehilangan tempat tinggal sekaligus sumber penghidupan mereka.
Sekitar 320 jiwa terdampak. Sebanyak 125 rumah beserta sejumlah fasilitas pendukung dilaporkan ludes terbakar. Bagi warga, yang tersisa bukan sekadar bangunan yang hangus, tetapi juga harta benda, ruang hidup, dan bagian dari keseharian yang selama ini mereka jalani di kampung adat tersebut.
Rumah-rumah di Sade memang memiliki karakter yang berbeda dengan permukiman pada umumnya. Bangunan tradisional yang sebagian besar menggunakan kayu dan beratapkan alang-alang membuat api dengan cepat menjalar dari satu bangunan ke bangunan lainnya.
Ketika kobaran api membesar, warga hanya memiliki satu pilihan: menyelamatkan diri.
Nyaris tidak ada waktu untuk membawa keluar barang-barang berharga dari dalam rumah.
“Hampir semua ikut terbakar,” ujar Bupati Lombok Tengah H. Lalu Pathul Bahri kepada awak media.
Pagi harinya, suasana di Sade berubah drastis. Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah bersama Pemerintah Provinsi NTB menggelar rapat darurat dengan melibatkan berbagai unsur, termasuk TNI dan kepolisian.
Posko kesehatan dan dapur umum mulai didirikan. Bantuan berupa bahan makanan, selimut hingga tempat tidur sementara berdatangan untuk memenuhi kebutuhan warga selama masa tanggap darurat.
Sebagian warga untuk sementara mengungsi ke rumah saudara dan keluarga yang tinggal tidak jauh dari kawasan Sade. Pendataan terhadap jumlah warga terdampak masih dilakukan.
Bagi pemerintah daerah, penanganan kebutuhan dasar warga menjadi prioritas. Kesehatan dan pendidikan anak-anak korban kebakaran menjadi perhatian utama selama masa tanggap darurat.
“Fokus utama kita saat ini bagaimana memastikan kondisi kesehatan dan pendidikan bagi anak-anak warga terdampak tetap terjamin,” kata Pathul.
Sementara persoalan mengenai penataan dan rekonstruksi Kampung Adat Sade belum diputuskan. Pemerintah memilih menyelesaikan kebutuhan mendesak warga terlebih dahulu sebelum membicarakan seperti apa wajah Sade setelah kebakaran.
Namun, ada satu hal yang membuat kebakaran ini terasa jauh lebih besar daripada sekadar kehilangan bangunan.
Kampung adat itu selama bertahun-tahun menjadi salah satu ikon wisata budaya Lombok Tengah. Rumah-rumah tradisionalnya, kehidupan masyarakat adat, serta tradisi yang diwariskan lintas generasi menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat budaya Sasak.
Karena itu, ketika rumah-rumah adat tersebut terbakar, yang hilang bukan hanya kayu, alang-alang dan benda-benda di dalam rumah. Sebagian dari lanskap budaya yang selama ini dikenal wisatawan ikut lenyap dalam kobaran api.
Nilai kehilangan itu bahkan sulit dihitung dengan angka.
“Bukan hanya kerugian materil, tetapi juga kerugian nonmateril,” kata Pathul.
Pertanyaan-pertanyaan itu kini menjadi pekerjaan besar setelah api padam.
Di sisi lain, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan. Kapolres Lombok Tengah Kombes Pol. Hariyanto mengatakan, tim dari Polda NTB bersama Polres Lombok Tengah masih melakukan olah tempat kejadian perkara.
Informasi awal menyebut kebakaran diduga dipicu arus pendek listrik dari salah satu rumah warga. Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan sebelum hasil penyelidikan keluar. Tim juga berencana mendapat dukungan pemeriksaan dari Laboratorium Forensik Polda Bali.
Sekitar 300 personel gabungan telah dikerahkan untuk membantu pengamanan dan penanganan pascakebakaran.
Kini, ketika asap telah menghilang dan api tak lagi terlihat, tantangan sebenarnya baru dimulai.
Warga harus kembali membangun kehidupan dari awal. Pemerintah harus memikirkan tempat tinggal, pendidikan, kesehatan dan penghidupan mereka. Di saat yang sama, ada pekerjaan yang lebih besar: memikirkan masa depan Kampung Adat Sade sebagai warisan budaya dan salah satu wajah pariwisata Lombok.
Sade mungkin telah kehilangan rumah-rumahnya dalam satu malam.
Di antara puing-puing yang tersisa, harapan untuk membangun kembali kampung adat itu kini menjadi bagian dari perjalanan panjang masyarakatnya. Bukan sekadar membangun kembali rumah, melainkan menjaga agar identitas, tradisi dan ingatan tentang Sade tidak ikut hilang bersama api.
Editor : Wahyudi