klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Geger Keracunan Massal di SMPN 1 Umbulsari, 112 Warga Sekolah Jadi Korban Menu MBG

avatar Muhammad Hatta
  • URL berhasil dicopy
Gerak cepat penanganan darurat dari pihak kepolisian, TNI, serta tenaga kesehatan.
Gerak cepat penanganan darurat dari pihak kepolisian, TNI, serta tenaga kesehatan.

KLIKJATIM.Com | Jember – Sebanyak 112 warga sekolah yang terdiri dari siswa dan guru di SMP Negeri 1 Umbulsari, Kabupaten Jember, Jawa Timur, diduga mengalami keracunan makanan setelah mengonsumsi menu Makanan Bergizi Gratis (MBG).

Peristiwa memprihatinkan ini mulai terdeteksi pada Rabu (4/2) malam dan puncaknya terjadi pada Kamis (5/2) pagi, hingga memicu penanganan darurat dari pihak kepolisian, TNI, serta tenaga kesehatan.

Kapolsek Umbulsari, AKP Setyono Budhi, mengungkapkan bahwa pihaknya mendapatkan laporan awal dari anggota Bhabinkamtibmas sekitar pukul 09.00 WIB mengenai gangguan kesehatan massal yang dialami para siswa. Merespons laporan tersebut, tim dari Unit Binmas dan Unit Sat Samapta segera diterjunkan ke lokasi untuk melakukan pengecekan.

“Tadi saya dapat info dari bhabinkamtibmas sekitar jam 9 pagi, ada laporan siswa SMPN 1 Umbulsari diduga keracunan makanan MBG. Saya bersama dua anggota dari Unit Binmas dan Unit Sat Samapta langsung mendatangi sekolah,” ujar Budhi saat dikonfirmasi di Mapolsek Umbulsari, Kamis (5/2/2026) petang.

Setibanya di sekolah, aparat mendapati unsur Muspika dan tenaga medis sudah melakukan penanganan awal. Berdasarkan data sementara, terdapat 99 siswa dan 13 guru yang mengeluhkan gejala serupa, yakni mual, muntah, hingga diare. Budhi menjelaskan bahwa kecurigaan guru bermula saat melihat antrean yang tidak biasa di fasilitas sanitasi sekolah.

“Menurut keterangan guru, awalnya mereka curiga karena tiba-tiba banyak siswa yang antre ke toilet, bahkan antreannya panjang. Guru-guru panik, kemudian melapor ke petugas dan Muspika setempat,” katanya menjelaskan situasi di lapangan.

Beberapa siswa mengaku gejala mual sudah mulai terasa sejak Rabu malam setelah mengonsumsi menu yang terdiri dari nasi putih, ayam bakar, sambal, lalapan, serta susu kotak. Namun, kondisi tersebut mencapai puncaknya pada Kamis pagi sehingga menimbulkan kepanikan massal di lingkungan sekolah.

“Diakui ada yang sudah merasa mual dan diare sejak Rabu malam. Makanya paginya berlanjut, terlihat antrean panjang di toilet. Reaksinya baru benar-benar terasa hari ini,” ucap Budhi.

Terkait detail menu pendukung, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih mendalam.

“Untuk jenis susu kotaknya apa, kami masih mendalami. Belum bisa dipastikan,” ungkapnya.

Langkah medis segera diambil oleh tim dari Puskesmas Umbulsari di bawah koordinasi dr. Ahmad Santoso. Para korban diberikan obat diare dan mual di lokasi sekolah. Meski sebagian besar membaik, terdapat lima siswa yang kondisinya cukup lemah sehingga harus dirujuk untuk mendapatkan perawatan intensif.

“Awalnya ada dua siswa yang dibawa ke puskesmas, kemudian bertambah menjadi lima orang. Tadi saya cek, mereka masih menjalani perawatan dan diinfus,” ulasnya mengenai kondisi terkini para siswa.

Mengenai kendala penyelidikan, polisi menyebut tidak sempat mengamankan sampel makanan dari hari Rabu karena kejadian baru dilaporkan keesokan harinya saat makanan sudah habis dikonsumsi. Namun, distribusi makanan untuk hari Kamis langsung dibatalkan dan ditarik oleh pihak penyedia guna menghindari risiko lebih lanjut.

“Karena sudah terlalu siang dan bersamaan dengan munculnya gejala keracunan pada siswa, akhirnya makanan tidak jadi dibagikan dan ditarik. Dikhawatirkan sudah terlalu lama,” jelas Budhi.

Meski terjadi insiden ini, pihak Muspika, sekolah, dan penyedia sepakat program MBG akan tetap dilanjutkan dengan evaluasi ketat terhadap standar keamanan pangan. Budhi menegaskan bahwa koordinasi lintas sektor telah dilakukan untuk menjamin kualitas konsumsi siswa ke depannya.

“Sudah dilakukan rapat koordinasi. Ke depan, kualitas makanan harus lebih baik dari sebelumnya agar kejadian seperti ini tidak terulang,” pungkasnya.

Editor :