KLIKJATIM.Com | Surabaya - Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polrestabes Surabaya bersama Bank Indonesia Perwakilan Jawa Timur membongkar jaringan produsen dan pengedar uang palsu. Selain mengamankan 11 orang tersangka yang terlibat, polisi menyita barang bukti berupa sebanyak 11.155 lembar uang rupiah palsu pecahan Rp100 ribu.
[irp]
Wakapolrestabes Surabaya AKBP Hartoyo dalam keterangannya kepada wartawan mengungkapkan, kejahatan uang palsu ini no boundaries atau tidak mengenal batas wilayah. "Ada pendananya dari satu daerah, pembuatnya dari daerah lain, serta pengedarnya dari berbagai daerah," katanya.
Selain itu, polisi juga mengamankan barang bukti beberapa unit mesin cetak serta berbagai peralatan pembuatan uang palsu. Sementara para tersangka yang sudah tertangkap masing-masing berinisial SWD, UM, SYF, SUG, NSTM, HRDS, SMRD, SMRJ, SRKM, OLN, dan AG.
Enam orang pelaku di antaranya ditahan di Polrestabes Surabaya, tiga orang pelaku lainnya ditangkap dan ditahan di Polres Ngawi, serta masing-masing seorang pelaku ditangkap dan ditahan di Polres Lamongan dan Mojokerto Kota. "Sementara dua orang pelaku lainnya yang berperan sebagai pengedar masih buron dan telah dimasukkan daftar pencarian orang (DPO)," kata AKBP Hartoyo.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Imam Subarkah mengapreisiasi pengungkapan kasus uang palsu hasil penyelidikan bekerja sama dengan Polrestabes Surabaya. "Ini adalah ungkap kasus uang palsu terlengkap sebab yang ditangkap tidak hanya pengedarnya, melainkan juga pembuat sampai dengan pendananya," katanya.
Imam Subarkah berharap dari ungkap kasus ini bisa semakin mengurangi peredaran uang palsu, khususnya di wilayah Jawa Timur. "Ini temuan kasus yang menurut saya sangat lengkap dan sangat baik untuk mencegah penyebaran uang palsu," ujarnya.
Lebih lanjut, Imam mengajak masyarakat agar selalu waspada terkait peredaran uang palsu dalam setiap melakukan transaksi pembayaran tunai. "Uang rupiah palsu yang dibuat dan diedarkan mampu dikenali melalui cara 3D, yaitu dilihat, diraba dan diterawang," tuturnya. (hen)
Editor : Redaksi