KLIKJATIM.Com | Bojonegoro - Konsistensi Pemkab Bojonegoro dalam upaya meningkatkan kedaulatan pangan semakin nyata, hal ini dibuktikan dalam perencanaan pembangunan infrastruktur di berbagai bidang termasuk salah satunya pembangunan Waduk Pejok di Kecamatan Kepohbaru Bojonegoro.
[irp]
Pembangunan ini rencana akan segera terealisasi di tahun 2022 mendatang. Menanggapi hal di atas, pada hari ini Sabtu, (31/10/2020) bertempat di Balai Desa Pejok Kecamatan Kepohbaru.
"Hari ini kita laksanakan sosialisasi lahan terdampak rencana pembangunan waduk Pejok Dan Pengelolaan DAS Secara Terpadu oleh Dinas PU SDA," ungkap Bupati Bojonegoro Anna Muawanah Sabtu (31/10/2020).
[caption id="attachment_38626" align="alignnone" width="300"]
Bupati Bojonegoro Anna Muawanah meninjau lokasi Waduk Pejok di Kecamatan Kepohbaru. (Nur Afifullah/Klikjatim.com)[/caption]
Dalam sambutanya Bupati perempuan ini menyampaikan, dalam suatu pembangunan guna meningkatkan taraf hidup masyarakat, peran Pemerintah dan masyarakat memang harus saling bersinergi dan mendukung.
Menurutnya, secara ekonomi percepatan pembangunan Waduk Pejok ini tentu sangat memberi manfaat bagi warga, terutama di wilayah Bojonegoro bagian timur, di wilayah bagian selatan sudah ada Waduk Pacal, di wilayah tengah sudah ada Waduk Gongseng yang akan segera diresmikan tahun 2021 dan di wilayah utara ada Bengawan Solo.
Anna Muawanah melanjutkan, dengan demikian secara otomatis Waduk Pejok ini akan mampu meningkatkan mata pencaharian warga, meningkatkan produktifitas dan hasil pertanian, yang tadinya setahun tanam dua kali bisa tiga kali tanam dengan luasan 5700 ha lahan pertanian bisa terairi.
Ia menambahkan, tahun 2022 ke depan ini mudah-mudahan sudah segera bisa dibangun agar warga juga segera merasakan manfaatnya, begitu pula prosesnya baik nanti pembebasan lahan terdampak maupun AMDAL bisa lancar.
Sementara itu Kepala Dinas PU SDA Tedjo Sukmono dalam laporannya menyampaikan, Sosialisasi Lahan Terdampak Rencana Pembangunan Waduk Pejok Dan Pengelolaan DAS Secara Terpadu ini merupakan tahap awal dalam pelaksanaan pembangunan Waduk Pejok. Karena nantinya akan melalui beberapa tahapan-tahapan seperti studi LARAP (Land Lqusition Resetlement Action Plan) untuk mengetahui secara detail luasan lahan yang terdampak serta secara detail dan pasti harga tanah yang nanti akan melibatkan tim appraisal dan AMDAL.
Ia menambahkan, keduanya ini akan diajukan yang merupakan syarat untuk mendapatkan recount text dari BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo, karena Waduk Pejok tersebut merupakan Wilayah daerah Bengawan Solo.
Dari hasil review desain yang dilakukan BBWS Bengawan Solo pada tahun 2015, untuk Desa Kendung meliputi 8 Dusun wilayah terdampak, Desa Kesongo 9 Dusun, dan Pejok 6 Dusun. Dengan rencana di bangunnya Waduk Pejok ini nanti harapannya wilayah Kephbaru sudah tidak lagi banjir, serta mensejahterakan petani. Begitu pula di Warga Kendung dan Kesongo akan semakin berdaya, bisa memanfaatkan sebagai obyek wisata.
Pembangunan Waduk Pejok Kecamatan Kepohbaru memang sudah sejak dulu jaman penjajahan Belanda yang berlokasi di perbatasan dua Kabupaten yakni Bojonegoro tepatnya di sisi sebelah kiri sungai masuk Desa Pejok Kecamatan Kepohbaru dan di sisi sebelah kanan sungai masuk Desa Talunrejo Kecamatan Bluluk Lamongan.
Untuk luas genangan waduk 147 ha yang mampu menampung volume air efektif 3.83 juta m³ yang nantinya memiliki fungsi sebagai irigasi, air baku air minum, dan peredaman banjir, serta ada empat wilayah Desa terdampak yakni :
1. Desa Pejok Kecamatan Kepohbaru, Desa Kendung dan Kesongo Kecamatan Kedungadem Kabupaten Bojonegoro.
2. Desa Talunrejo Kec. Bluluk Kab. Lamongan.
Dalam acara ini turut hadir Forkopimda, Sekda, Perwakilan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo, Perwakilan BPN, Asisten II, Kepala Bappeda, Kepala Dinas PU SDA, Forkopimcam Kedungadem, Kepohbaru, Kades Pejok, Kendung, Kesongo, serta perwakilan warga terdampak. (ADV)
Editor : M Nur Afifullah