KLIKJATIM.Com | Gresik – Manfaat program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) terus dirasakan masyarakat Indonesia, salah satunya adalah Lailatul Arifah (36). Warga asal Dusun Kaklak Desa Banyuurip, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik ini mengaku benar-benar sangat terbantu dengan adanya program JKN-KIS. Hal ini dikarenakan suaminya, Ihwanuddin (42) mengidap penyakit batu ginjal sejak enam tahun lalu.
[irp]
"Suami sakit itu mulai tahun 2014 akhir dan dianjurkan untuk operasi. Karena waktu itu belum daftar menjadi peserta JKN-KIS, jadi biaya operasi yang menghabiskan sekitar 22 juta rupiah masih ditanggung sendiri. Dan saat itu kondisi pemasukan juga tidak memadai, gaji Rp 1 juta setiap bulan," cerita Ifah sapaan akrabnya, Jumat, (9/10/2020).
Sejak saat itu, Ifah tergerak hatinya dan menyadari pentingnya mendaftarkan diri sebagai peserta JKN-KIS. Menurut dirinya, program yang dikelola oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan ini memberikan keuntungan yang tidak ternilai, hanya saja masih banyak orang yang belum memahami dan merasakan manfaatnya sehingga mengaggap hal tersebut tidak penting.
"Saya merasakan betul betapa mahalnya kesehatan itu, jika kita sudah sakit dan membutuhkan biaya yang besar sangat penting memiliki jaminan kesehatan. Saya menyesal, harusnya dari dulu saya mendaftar sebagai peserta JKN-KIS. Harusnya saya mendaftar untuk jaminan ketika sakit, bukan menunggu sakit dulu," urainya.
Lebih lanjut, Ifah menceritakan keuntungan yang ia dan keluarganya dapatkan selama menjadi peserta JKN-KIS. Bagi Ifah, program ini telah menjadi penolong khususnya bagi suaminya untuk menghadapi penyakit yang diderita.
“Suami saya bukan hanya menjalani operasi, tetapi harus menjalani perawatan rutin dan wajib kontrol setiap tiga bulan dengan biaya sampai dengan 5 juta rupiah. Kalau kami tidak menggunakan JKN-KIS, kami juga bingung bagaimana untuk bayar itu semua apalagi pekerjaan suami tidak tetap. Kadang bertani ke kebun, kadang ngajar di pondok atau ada undangan ngaji," tuturnya.
Bukan hanya sebatas operasi dan kontrol rutin, perjuangan suami Ifah untuk sembuh harus melewati beberapa perawatan lainnya. Hal tersebut membuat Ifah dan suaminya pulang-pergi ke rumah sakit yang tentunya menghabiskan biaya yang besar. Bahkan, suami Ifah harus menjalani 2 kali lagi operasi demi mendapatkan kesembuhan total.
“Sejak pasca operasi pertama, suami saya dan saya bolak-balik rumah sakit karena memang masih harus perawatan. Sampai akhirya tahun 2018, suami saya harus menjalani operasi lagi sebanyak dua kali. Semua perawatan mulai USG atau periksa organ dalam perut sampai bawah dan juga periksa lab, Alhamdulillah semuanya gratis," papar bidan yang statusnya sebagai pegawai tidak tetap (PTT) tersebut.
Ifah lantas berharap agar program JKN-KIS terus dapat dijalankan untuk memberikan jaminan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat. Walaupun dirinya harus mengeluarkan biaya untuk membayar iuran JKN-KIS setiap bulannya, akan tetapi hal tersebut tetap tidak sebanding dengan program yang memberikan manfaat tanpa batas.
“Kalo dihitung-hitung, biaya pengobatan suami saya mungkin sudah sampai ratusan juta, padahal saya Cuma bayar iuran 102 ribu tiap bulan. Semuanya ditanggung asal sesuai prosedur dan indikasi dari dokter. Saya sangat beruntung dan terbantu dengan adanya program JKN-KIS ini, karena sudah meringankan beban hidup keluarga saya. Saya berharap agar program ini terus ada untuk memberikan keuntungan bagi kita semua,” tambahnya. (adv/nul)
Editor : Redaksi