KLIKJATIM.Com | Surabaya - Ketua Tim Pemenangan Machfud - Mujiaman, Miratul Mukminin (Gus Amik) menyebut pihaknya belum mengetahui hasil swab test yang dilakukan oleh paslon MA - Mujiaman pada Senin (7/9/2020) lalu. Hingga Rabu (9/9/2020) sore, baik MA maupun tim pemenangan belum mengetahui hasil swab dari KPU Surabaya maupun RSUD dr Soetomo.
[irp]
Namun demikian, Gus Amik mengakui, bahwa MA sempat menjalani isolasi mandiri sejak 25 Agustus. Itu dilakukan lantaran ada seorang anggota tim pemenangan yang ternyata reaktif setelah dilakukan rapid test. "Pak MA kondisinya sehat. Tapi beliau berinisiatif melakukan karantina karena salah satu tim yang bersangkutan termasuk ring satu," terang Gus Amik saat dikonfirmasi klikjatim.com, Rabu (9/9/2020) sore.
Gus Amik menambahkan, pada 5 September 2020, MA juga sempat menjalani swab di RS National Hospital. Namun hasilnya negatif. Demikian juga dengan Mujiaman dia dinyatakan negatif covid usai melakukan swab di RS Premier Surabaya. Hari berikutnya, keduanya mendaftar di KPU Surabaya. Semua berkas juga telah diserahkan. Termasuk hasil tes swab.
Sedangkan pada tanggal 7 September, MA-Mujiaman kembali menjalani swab di RSUD Soetomo. Hingga Rabu, tim pemenangan belum menerima hasil swab tersebut. Menanggapi kabar bahwa salah satu paslon positif covid-19, Gus Amik belum bisa memberikan kesimpulan.
"Jika memang hasilnya tak sesuai yang diharapkan, tentu akan siap mengikuti prosedur. Covid-19 ini bukan aib, dan siapa saja bisa kena. Kalau hasilnya demikian, tentu pak MA akan mengikuti protokol kesehatan sesuai aturan dari pemerintah," papar dia.
Gus Amik juga menyayangkan adanya keterangan dari komisioner KPU Suprayitno yang memberikan keterangan ke media terkait hasil swab paslon tertentu. Sebab, menurutnya itu merupakan hasil rekam medik yang bersifat rahasia. Dalam etika medis, hal itu bukan untuk dipublikasikan. Kecuali, yang membuka adalah orang yang bersangkutan. "Dan itu sangat tidak etis tentunya," tegasnya.
Dikatakan, berdasar pedoman Kemenkes, jika hasilnya positif bisa dicek ulang setelah lebih dari 24 jam. Jika tetap positif, akan dilakukan terapi sesuai derajat sakitnya. "Kalau tanpa gejala, cukup isolasi saja. Setelah itu, dicek lagi tujuh hari kemudian. Itu hasil konsultasi saya dengan Dirut RSUD dr Soetomo," pungkas dia. (mkr)
Editor : Redaksi