KLIKJATIM.Com | Tuban - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan percepatan transisi energi global, generasi muda dituntut untuk mengambil peran aktif dalam menghadapi perubahan zaman. Tidak hanya memahami perkembangan teknologi, anak muda juga perlu memiliki wawasan mengenai sektor energi yang menjadi salah satu penopang utama pembangunan nasional.
Hal tersebut disampaikan Kepala Communication, Relation and CID PT Pertamina EP Cepu Zona 11, Wazirul Luthfi, dalam kegiatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Goes To Campus di STAI Senori, Rabu (4/11/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Luthfi membawakan materi bertajuk "Beyond Viral, Speak With Impact, Think Digital, and Lead The Future". Ia mengajak mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, memanfaatkan teknologi digital secara produktif, serta mempersiapkan diri menjadi generasi yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masa depan.
Dalam pemaparannya, Luthfi menjelaskan bahwa minyak dan gas bumi (migas) memiliki peran yang jauh lebih luas daripada sekadar bahan bakar minyak (BBM). Migas merupakan sumber energi primer sekaligus bahan baku berbagai produk petrokimia yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menyebutkan, dari sekitar 6.000 jenis produk yang digunakan masyarakat, mulai dari tekstil, plastik, perangkat elektronik, perabot rumah tangga hingga infrastruktur, sekitar 54 persen di antaranya menggunakan produk non-BBM, sedangkan 46 persen lainnya menggunakan BBM.
"Setiap penggunaan kurang lebih 6.000 produk mulai dari bahan tekstil, plastik, elektronik, perabotan, hingga infrastruktur, sebanyak 54 persennya menggunakan produk non-BBM dan 46 persen menggunakan BBM," ujarnya.
Luthfi juga memaparkan proyeksi kebutuhan energi nasional melalui peta jalan bauran energi Indonesia hingga 2050. Berdasarkan data yang disampaikan, pada 2020 batu bara masih mendominasi bauran energi sebesar 37 persen, disusul minyak bumi 29 persen, gas 21 persen, dan Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 14 persen.
Memasuki 2030, kontribusi batu bara diproyeksikan turun menjadi 30 persen. Sebaliknya, porsi EBT diperkirakan meningkat menjadi 26 persen, sementara gas mencapai 22 persen dan minyak bumi sebesar 23 persen.
Adapun pada 2050, EBT diproyeksikan menjadi salah satu penopang utama bauran energi nasional dengan kontribusi 31 persen. Sementara itu, gas dan batu bara masing-masing diperkirakan mencapai 25 persen, sedangkan minyak bumi berada di angka 20 persen.
Menurut Luthfi, tren tersebut menunjukkan adanya perubahan komposisi bauran energi nasional seiring berlangsungnya transisi menuju sumber energi yang lebih ramah lingkungan. Namun, penurunan persentase energi fosil tidak serta-merta berarti kebutuhan volumenya ikut berkurang.
Sebaliknya, pertumbuhan aktivitas ekonomi dan peningkatan kebutuhan energi diperkirakan tetap mendorong kenaikan konsumsi secara nominal.
"Dari data tersebut, kita bisa melihat bahwa secara proyeksi konsumsi, minyak naik 139 persen, dan konsumsi gas naik 298 persen," jelasnya.
Selain memberikan pemahaman mengenai sektor energi, Luthfi turut mengingatkan mahasiswa tentang pentingnya meningkatkan literasi digital. Menurutnya, perkembangan media sosial dan teknologi informasi harus dimanfaatkan sebagai sarana untuk meningkatkan kapasitas diri, bukan sekadar menjadi ruang hiburan.
Ia mendorong generasi muda menggunakan platform digital untuk mempelajari berbagai keterampilan, membangun portofolio, memperluas jaringan profesional, mengembangkan karier, hingga membuka peluang usaha.
"Dari sosial media, kita bisa belajar, membangun portofolio, networking, karier, dan bisnis, bukan hanya scroll tanpa melakukan apapun," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Luthfi juga membagikan sejumlah strategi membangun personal branding agar generasi muda mampu bersaing di tengah kompetisi global. Ia menilai, personal branding yang kuat tidak cukup dibangun melalui popularitas di media sosial, tetapi harus didukung kompetensi, karya nyata, karakter, serta kontribusi dalam memberikan solusi terhadap berbagai persoalan.
Menutup pemaparannya, Luthfi mengajak mahasiswa untuk tidak tertinggal dalam mengikuti perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Teknologi tersebut, menurutnya, dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk meningkatkan kreativitas dan produktivitas.
Ia menegaskan bahwa kehadiran AI seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman yang menggantikan peran manusia, melainkan sebagai asisten yang dapat mendukung proses berkarya dan menghasilkan inovasi.
"Di era saat ini, kita juga bisa memanfaatkan perkembangan AI. Bukan untuk menggantikan peran, tetapi cukup menjadi asisten dalam membuat sebuah karya," pungkasnya.
Editor : Fatih