KLIKJATIM.Com | Gresik – PT Petrokimia Gresik membawa pengalaman transformasi industri dan pertanian berkelanjutan Indonesia ke forum internasional di New York, Amerika Serikat.
Direktur Utama Petrokimia Gresik Daconi Khotob menghadiri 2026 UN Private Sector Forum di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, Minggu (20/9) waktu setempat atau Senin (21/9) waktu Indonesia.
Forum yang digelar UN Global Compact tersebut mempertemukan sekitar 150 pemimpin senior dari kalangan dunia usaha, pemerintah, dan PBB. Pembahasannya berfokus pada percepatan transisi menuju energi yang bersih, adil, dan aman.
Dalam forum tersebut, Daconi menjadi satu-satunya direktur utama dari Indonesia yang hadir. Agenda yang dibahas mencakup investasi, infrastruktur, kebijakan, hingga kolaborasi pemerintah dan dunia usaha dalam mempercepat penerapan energi bersih.
Sehari berikutnya, Daconi juga menjadi pembicara dalam forum Global Talent for Sustainable Development di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) New York.
Forum itu mempertemukan diaspora Indonesia, mahasiswa, pemimpin bisnis, praktisi keberlanjutan, dan inovator. Salah satu isu yang dibahas adalah kesiapan sumber daya manusia Indonesia menghadapi pertumbuhan green jobs seiring transformasi menuju industri rendah karbon.
“Transformasi menuju ekonomi hijau pada dasarnya juga merupakan transformasi tenaga kerja. Investasi pada teknologi harus berjalan bersama dengan investasi pada manusia,” ujar Daconi.
Menurut dia, teknologi hijau membutuhkan sumber daya manusia yang mampu merancang, mengoperasikan, sekaligus mengembangkannya. Karena itu, talenta Indonesia yang sedang belajar maupun bekerja di luar negeri dinilai memiliki peran dalam membawa pengetahuan, pengalaman, dan jejaring global untuk mendukung pembangunan di Tanah Air.
Daconi menyebut transformasi industri hijau juga akan mengubah kebutuhan kompetensi tenaga kerja. Engineer, operator, agronom, hingga akuntan tidak hanya dituntut menguasai bidang masing-masing, tetapi juga perlu memahami perkembangan teknologi dan kebutuhan industri yang semakin berorientasi pada keberlanjutan.
“Engineer tetap engineer, agronom tetap agronom, dan akuntan tetap akuntan. Tetapi teknologi yang mereka gunakan, kompetensi yang mereka butuhkan, dan ukuran keberhasilan pekerjaannya akan berubah,” katanya.
Dari Pabrik hingga Lahan Pertanian
Dalam forum tersebut, Daconi juga memaparkan posisi Petrokimia Gresik yang berada di tengah transformasi industri sekaligus pertanian.
Di sisi industri, perusahaan terus mendorong efisiensi proses produksi dan pengurangan intensitas karbon. Sementara di sisi pertanian, inovasi perusahaan diarahkan untuk mendukung produktivitas petani dan menjaga kesehatan tanah.
Salah satunya melalui inovasi GladiAgro: Next-Gen Soil Revival. Inovasi tersebut sebelumnya meraih penghargaan tertinggi dalam SDGs Innovation Accelerator for Young Professionals 2026.
Petrokimia Gresik menyebut hasil pengujian terhadap 40.282 sampel tanah di 27 provinsi sejak 2016 menunjukkan 91,9 persen sampel memiliki kandungan karbon organik yang rendah.
Melalui GladiAgro, perusahaan memanfaatkan Petro Gladiator, dekomposer berbasis mikroba unggul, untuk mempercepat penguraian limbah pertanian dan bahan organik menjadi nutrisi organik.
Nutrisi tersebut kemudian dikembalikan ke lahan untuk membantu meningkatkan kandungan bahan organik, memperbaiki struktur tanah, sekaligus mendukung pemulihan kesehatan tanah.
“Transformasi hijau kami tidak berhenti di gerbang pabrik, tetapi berlanjut sampai ke lahan pertanian,” jelas Daconi.
Menurutnya, transformasi tersebut harus berjalan bersamaan. Industri dituntut meningkatkan efisiensi dan menekan emisi, sedangkan sektor pertanian perlu didukung agar mampu menjaga kesehatan tanah, menggunakan input secara tepat, dan meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan.
Target Penurunan Emisi 30 Persen
Dari sisi operasional, Petrokimia Gresik memiliki roadmap dekarbonisasi menuju target Net Zero Emission (NZE) 2060.
Untuk target jangka pendek 2030, perusahaan menargetkan penurunan emisi sebesar 30 persen dibandingkan skenario Business as Usual (BAU) sebesar 3,46 juta ton CO₂e.
Sejumlah langkah disiapkan, mulai dari efisiensi energi dan utilitas, penggunaan sumber energi yang lebih bersih, pemanfaatan energi terbarukan dan CO₂, hingga pengembangan teknologi rendah karbon.
Petrokimia Gresik juga tengah mengkaji pengembangan green hydrogen bersama PT Pupuk Indonesia (Persero) untuk mendukung produksi hybrid green ammonia berkapasitas 250 MTPD.
Daconi menilai transformasi tersebut membuat perusahaan tidak cukup hanya menjadi pengguna tenaga kerja. Industri juga perlu ikut membentuk talenta yang dibutuhkan untuk menghadapi perubahan teknologi dan model bisnis.
“Talenta hijau Indonesia perlu disiapkan dari sekarang karena transformasi industri hijau tidak menunggu kesiapan kita,” pungkasnya.
Editor : Abdul Aziz Qomar