KLIKJATIM.Com | Lamongan – Provinsi Jawa Timur memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana alam. Sepanjang tahun 2026, tercatat 672 kejadian bencana melanda berbagai wilayah di Jatim, termasuk Kabupaten Lamongan, dengan estimasi nilai kerugian materiil mencapai Rp7,5 miliar.
Belajar dari catatan tersebut, penguatan koordinasi antara pemerintah daerah, TNI, Polri, instansi teknis, relawan, hingga elemen masyarakat dipandang krusial untuk memastikan kesiapan personel, logistik, serta sarana prasarana penanggulangan bencana.
Guna memantapkan kesiapsiagaan tersebut, Pemerintah Kabupaten Lamongan menggelar Apel Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi Tahun 2026–2027 di Alun-Alun Lamongan, Kamis (05/11/2026).
Bertindak sebagai pembina apel, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi membacakan amanat tertulis Kapolda Jatim Irjen. Pol. Dekananto Eko Purwono. Berdasarkan rilis prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim hujan periode 2026–2027 diperkirakan bergeser atau datang lebih lambat. Fenomena ini menjadi sinyal kewaspadaan atas tingginya potensi cuaca ekstrem yang membayangi berbagai daerah.
"Bapak Kapolda Jawa Timur berpesan agar seluruh jajaran melaksanakan pemetaan wilayah rawan bencana alam bersama para pemangku kepentingan terkait, memperkuat koordinasi dan jalur komunikasi antar-instansi, serta membentuk posko kesiapsiagaan sehingga setiap laporan dapat ditindaklanjuti secara cepat dan tepat. Selain itu, pastikan seluruh personel dalam kondisi prima dan dilengkapi alat pelindung diri karena keselamatan petugas sama pentingnya dengan keselamatan masyarakat yang kita lindungi," tutur Pak Yes membacakan pesan Kapolda Jatim.
Dalam gelaran apel tersebut, jajaran OPD di lingkungan Pemkab Lamongan—mulai dari Dinas Sosial, Dinkes, Disdik, Dinas BMCKTR, Perkim, PU SDA, DLH, Dishub, Satpol PP (Damkar), BPBD, hingga Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian—turut memaparkan kesiapan alutsista mitigasi serta rekam jejak langkah antisipasi yang telah berjalan.
Sejumlah ikhtiar konkrit yang diintensifkan Pemkab Lamongan mencakup respons cepat darurat, pendirian posko siaga, penyiapan persediaan obat-obatan dan pangan, pemeliharaan sistem drainase perkotaan, hingga normalisasi 40 titik waduk dan rawa dengan total pengerukan mencapai 300 ribu meter kubik.
Tak hanya itu, pengerukan dan normalisasi aliran sungai juga telah menyasar 262 titik kali sepanjang 214 kilometer di seluruh penjuru wilayah Kabupaten Lamongan demi meminimalkan risiko luapan banjir tahunan.
Melalui pendekatan kolaborasi pentahelix yang menyatukan peran pemerintah, aparat keamanan, akademisi, media, dan relawan warga, Pemkab Lamongan optimistis mampu menekan risiko dampak bencana serta memberikan perlindungan maksimal bagi masyarakat
Editor : Fatih