KLIKJATIM.Com | Surabaya - Sebanyak 100 lukisan karya Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dipamerkan dalam pameran tunggal bertajuk “Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Lanskap Hati Susilo Bambang Yudhoyono” di Voza Tower Surabaya.
Pameran yang berlangsung 16-29 September 2026 itu tidak sekadar menampilkan karya visual. Lukisan-lukisan tersebut juga menjadi ruang untuk melihat perjalanan batin, pengalaman hidup, kenangan hingga pandangan sosial politik SBY.
Pembukaan pada Selasa (15/9/2026) sekaligus dirangkai dengan peluncuran buku monograf dengan judul yang sama, karya perupa sekaligus kurator seni senior Suwarno Wisetrotomo.
SBY mengaku tidak pernah menempuh pendidikan formal di bidang seni. Kecintaannya terhadap seni tumbuh sejak remaja saat tinggal di Pacitan. Ketika SMP dan SMA, ia aktif bermusik dan mengikuti berbagai kegiatan seni.
“Saya harus mengaku, saya tidak pernah sekolah di jurusan seni. Saya tidak pernah sekolah di sekolah seni. Tetapi saya menyukai seni,” ujar SBY.
Perjalanan hidup kemudian membawanya ke dunia militer dan pemerintahan selama sekitar tiga dekade. Setelah meninggalkan pemerintahan pada 2014, SBY kembali menekuni seni.
Meninggalnya sang istri, Ani Yudhoyono, menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan batinnya.
“Di situlah saya melakukan kontemplasi. Saya lebih mengerti tentang makna kehidupan dan perasaan hati ini. Ada dorongan hati agar saya melakukan sesuatu yang bermakna dan memberikan harapan,” ungkapnya.
Sejak itu, SBY semakin aktif melukis, menulis puisi, bermusik hingga menciptakan lagu. Baginya, seni menjadi cara untuk menjaga ketenangan sekaligus menghadirkan harapan.
“Tapi di atas segalanya, I love art. Seni itu membuat kasih sayang, membangun harapan, dan juga menghadirkan kedamaian,” tuturnya.
Sementara itu, Suwarno membagi karya SBY dalam tiga kelompok, yakni Lanskap Memori, Lanskap Sosial Politik, dan Lanskap Tetapan Langsung.
Lanskap Memori banyak berbicara tentang kenangan dan kesendirian. Salah satunya lukisan Good Morning yang menggambarkan secangkir kopi.
Sementara Lanskap Sosial Politik merefleksikan respons SBY terhadap persoalan kemanusiaan dan keadilan. Adapun Lanskap Tetapan Langsung berisi lukisan alam yang dibuat berdasarkan objek yang dilihat secara langsung, termasuk panorama Pacitan dan Puncak Merapi.
Menurut Suwarno, karya lanskap SBY tidak hanya bernilai artistik, tetapi juga dapat menjadi arsip visual perubahan alam.
“Pak SBY menangkap pesona cahaya dengan sangat indah, sekaligus menggambarkan dan mengeluarkan renungan hatinya,” ujarnya.
Pameran tersebut digagas pengusaha sekaligus CEO Tancorp Hermanto Tanoko sebagai hadiah ulang tahun ke-77 bagi SBY.
Menurut Hermanto, di balik sosok prajurit dan negarawan, SBY memiliki sisi lain yang dituangkan melalui karya seni.
“Di balik ketegasan seorang prajurit dan kedalaman pemikiran seorang negarawan, ternyata terhampar jiwa seni yang begitu indah,” katanya.
Selama dua pekan, publik pun dapat melihat sisi lain SBY melalui sekitar 100 kanvas—bukan hanya sebagai mantan presiden, tetapi sebagai seorang manusia yang merekam pengalaman, kenangan dan perasaannya melalui cahaya di atas kanvas.
Editor : Wahyudi