klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Santri Keracunan MBG Tembus 500 Pasien, Ditangani di 8 Rumah Sakit

avatar Satria Nugraha
  • URL berhasil dicopy
Pasien terbanyak ditangani di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, yakni 334 orang
Pasien terbanyak ditangani di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, yakni 334 orang

KLIKJATIM.Com | Sidoarjo – Kasus dugaan keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sidoarjo terus bertambah. Data terbaru hingga Rabu (2/9/2026) pagi mencatat sebanyak 500 pasien telah mendapat penanganan di delapan rumah sakit.

Pasien terbanyak ditangani di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, yakni 334 orang. Dari jumlah tersebut, tiga pasien masih menjalani perawatan, 239 pasien telah diperbolehkan pulang, sementara 92 pasien masih dalam pemantauan atau observasi.

Selanjutnya, RS Delta Surya menangani 20 pasien dengan rincian 15 masih dirawat, satu pasien telah pulang, dan empat lainnya dalam observasi.

RSI Siti Hajar menangani 74 pasien. Sebanyak 29 pasien masih menjalani perawatan, 40 pasien telah pulang, dan lima lainnya masih dalam observasi.

RSU Aisyiyah Siti Fatimah menangani 47 pasien. Sebanyak delapan pasien masih dirawat dan 39 pasien telah diperbolehkan pulang.

Sementara itu, RS Bhayangkara Pusdik Sabhara Porong menangani delapan pasien yang seluruhnya masih menjalani perawatan. RS Arafah Anwar Medika menangani tiga pasien, dengan dua masih dirawat dan satu telah pulang. Sedangkan RS Anwar Medika menangani satu pasien yang masih dalam observasi.

Secara keseluruhan, dari 500 pasien tersebut, 65 orang masih menjalani perawatan, 320 telah keluar rumah sakit, dan 115 masih dalam observasi.

SPPG Kalitengah Disuspend
Menyusul kejadian tersebut, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Sidoarjo, dihentikan sementara atau disuspend. Penghentian dilakukan setelah ratusan penerima manfaat MBG mengalami keluhan dan mendapat perawatan di sejumlah rumah sakit pada Selasa (1/9/2026).

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak membenarkan penghentian sementara tersebut. Menurutnya, suspensi merupakan bagian dari standar operasional prosedur (SOP) Badan Gizi Nasional (BGN).

“Iya, di-suspend. Itu sudah SOP ya dari BGN,” kata Emil saat mengudara di Radio Suara Surabaya, Rabu (2/9/2026) pagi.

Namun, Emil menegaskan suspensi tersebut bukan berarti penyebab kejadian sudah diketahui. Pemprov Jatim masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan meminta investigasi menyeluruh terhadap proses penyediaan hingga distribusi makanan.

Emil mengatakan, investigasi tidak boleh berhenti hanya pada temuan bakteri dalam sampel makanan. Pemerintah perlu mengetahui akar persoalan, termasuk kemungkinan masalah pada bahan baku maupun prosedur penanganan makanan.

Salah satu informasi yang muncul menyebut sayuran sebagai dugaan sumber masalah. Namun, sejumlah santri yang tidak mengonsumsi sayuran juga mengalami keluhan sehingga dugaan tersebut belum dapat dipastikan.

Menurut Emil, penelusuran menyeluruh menjadi kewenangan BGN karena lembaga tersebut memiliki akses terhadap seluruh tahapan penyediaan makanan MBG.

Pemprov Jatim telah meminta Koordinator BGN Jawa Timur dan Koordinator Wilayah BGN Sidoarjo memastikan akar persoalan dapat diketahui melalui proses investigasi.

Emil juga mengungkapkan bahwa Kepala BGN Sudaryono telah melakukan video call dengannya pada Selasa malam. Dalam komunikasi tersebut, Emil berharap hasil investigasi dapat memberikan penjelasan utuh kepada masyarakat mengenai sumber masalah, baik terkait bahan baku maupun kemungkinan adanya prosedur yang tidak dijalankan secara optimal.

Sudah Kantongi Sertifikat
Emil menyebut SPPG Kalitengah sebenarnya telah memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dan sertifikasi penjaminan makanan.

Namun, menurutnya, kepemilikan sertifikat belum otomatis menjamin seluruh proses di lapangan berjalan sesuai standar. Berdasarkan keterangan Dinas Kesehatan, SLHS menilai aspek sarana, prasarana, serta sistem yang dimiliki SPPG.

“Starting point-nya ada memenuhi syarat, tetapi dalam pelaksanaan apakah sesuai dengan yang ideal dalam SOP itu yang kemudian harus ditelusuri,” ujar Emil.

Editor :