KLIKJATIM.Com | Com - Cargill Indonesia menerima penghargaan sebagai perusahaan pelopor Corporate Social Responsibility (CSR) berdampak dan berkelanjutan dari Radar Surabaya.
Penghargaan tersebut diserahkan Direktur Radar Surabaya, Lilik Widiantoro, kepada Admin & Relations Manager Cargill Indonesia, Adi Suprayitno, sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi perusahaan dalam menjalankan program tanggung jawab sosial yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Penghargaan tersebut sejalan dengan komitmen Cargill dalam mengembangkan berbagai program pemberdayaan masyarakat yang berfokus pada ketahanan pangan, perbaikan gizi, layanan kesehatan, penyediaan air bersih, pemberdayaan ekonomi, hingga pelestarian lingkungan. Komitmen itu juga ditegaskan melalui peluncuran laporan Corporate Responsibility and Sustainable Development terbaru yang merangkum berbagai inisiatif perusahaan di berbagai wilayah operasional.
Admin & Relations Manager Cargill Indonesia, Adi Suprayitno, mengatakan perusahaan terus berupaya menghadirkan program yang tidak hanya bersifat bantuan jangka pendek, tetapi mampu menciptakan perubahan yang berkelanjutan.
“Cargill berkomitmen untuk terus mengembangkan program yang memberikan dampak positif, khususnya bagi komunitas pedesaan di sekitar wilayah operasional,” ujarnya.
Di Jawa Timur, Cargill menjalankan program intervensi terintegrasi yang menyasar persoalan stunting dan ketahanan pangan. Program tersebut meliputi edukasi kesehatan ibu dan anak, promosi pemberian ASI, deteksi dini gangguan pertumbuhan, hingga pemberian makanan tambahan (PMT).
Di Kabupaten Gresik, program Laskar Cegah Stunting di Kecamatan Manyar melibatkan tenaga kesehatan, sekolah, dan kader masyarakat di enam desa. Salah seorang kader, Hj. Nur Cholilah dari Desa Pegaden, mengatakan program tersebut mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam upaya pencegahan stunting.
“Kami mendapat pengetahuan untuk membantu ibu-ibu lainnya, mulai dari kelas menyusui hingga rembuk desa dalam menentukan langkah penanganan,” katanya.
Sementara itu, di Kabupaten Pasuruan, Cargill memperkuat layanan kesehatan preventif melalui kerja sama dengan puskesmas setempat. Program pemantauan gizi telah menjangkau lebih dari 440 anak dan 400 lansia. Selain itu, lebih dari 1.000 penerima manfaat memperoleh distribusi pangan bergizi berupa telur, tempe, dan susu kedelai yang diproduksi pelaku UMKM lokal sepanjang 2025.
Pada sektor infrastruktur dasar, perusahaan membangun tujuh sumur dalam (deep well) yang kini dimanfaatkan lebih dari 10.000 warga di Pasuruan. Di bidang ekonomi, Cargill juga memberikan pelatihan kewirausahaan, pendampingan legalitas usaha, fasilitasi Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, hingga pelatihan pemasaran digital bagi UMKM, terutama yang dikelola perempuan.
Koordinator Griya UMKM Desa Ngerong, Sudarti, mengaku program tersebut membantu pelaku usaha meningkatkan daya saing.
“Usaha kami kini lebih siap berkembang karena sudah memiliki legalitas dan pemahaman pemasaran yang lebih baik,” ujarnya.
Di sektor lingkungan, Cargill mengembangkan Program Rumah Kompos 5R di Kabupaten Gresik yang mengusung prinsip Reduce, Reuse, Recycle, Replant, dan Refuse. Sejak diluncurkan pada 2022, program tersebut telah mengolah lebih dari 325 ton limbah organik menjadi kompos serta mendaur ulang lebih dari 19 ton sampah anorganik melalui kerja sama dengan bank sampah setempat. Inisiatif itu juga meraih Gold Award pada ajang Indonesia Sustainable Development Goals Awards (ISDA).
Director Plant Management Cargill Food Solution BSC Southeast Asia, Harya Pranatreshna, menegaskan bahwa pembangunan sistem pangan yang tangguh memerlukan kolaborasi lintas sektor.
“Penguatan sistem pangan tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan aksi bersama yang berkelanjutan,” katanya.
Berdasarkan riset Resilient Food Systems Index (RFSI) yang disusun Economist Impact dan didukung Cargill, Indonesia berada di peringkat ke-29 dari 60 negara dengan skor 66,5. Studi tersebut menunjukkan Indonesia memiliki kekuatan pada aspek keterjangkauan pangan, namun masih menghadapi tantangan dalam ketersediaan dan ketahanan sistem pangan di tingkat komunitas
Editor : Wahyudi