KLIKJATIM.Com | Jember - Musim kemarau panjang yang mulai melanda Kabupaten Jember memicu peningkatan kasus kebakaran di berbagai wilayah. Unit Pelaksana Teknis Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (UPT Damkarmat) Jember mencatat sebanyak 19 kejadian kebakaran terjadi sepanjang Juni 2026.
Memasuki awal Juli, sedikitnya empat kejadian kebakaran kembali terjadi, mulai dari lahan, tempat pembuangan sampah hingga bangunan milik warga.
Dari data UPT Damkarmat Jember menunjukkan kebakaran yang terjadi hingga 6 Juli 2026 meliputi kebakaran lahan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Pakusari, rerimbunan pohon bambu di kawasan Gladak Pakem, lahan tanaman tebu di dekat Kompleks Perumahan ITB, rerimbunan bambu di sekitar Perumahan Villa Tegal Besar Kecamatan Kaliwates, serta kebakaran rumah dan gudang pecah belah milik warga di sekitar Jalan Garuda, Dusun Krajan, Desa Kalisat, Kecamatan Kalisat.
Kepala UPT Damkarmat Jember Ahmad Sidiq mengatakan, kondisi cuaca panas dan minimnya curah hujan membuat lahan kering, semak belukar, hingga tumpukan sampah menjadi lebih mudah terbakar.
Salah satu peristiwa yang mendapat perhatian adalah kebakaran di TPA Pakusari yang berpotensi meluas apabila tidak segera ditangani petugas.
Menurutnya, saat menerima laporan kebakaran di TPA Pakusari, Damkarmat langsung mengerahkan empat unit armada pemadam beserta personel dari Pos Rambipuji dan Pos Kalisat.
Petugas bergerak cepat melakukan pembasahan dan isolasi titik api sehingga kobaran api berhasil dipadamkan sebelum menjalar ke area yang lebih luas.
“Alhamdulillah, kami tetap dengan kekuatan penuh. Banyak personel yang selalu siap dan sigap. Saat kebakaran di TPA Pakusari kemarin kami mengerahkan bantuan dari Pos Rambipuji dan Kalisat. Empat unit kami kerahkan dan tidak berapa lama api berhasil dipadamkan,” ujar Sidiq saat dikonfirmasi sejumlah wartawan di Jember, Selasa (7/7/2026).
Ia menegaskan, sebagian besar kebakaran saat musim kemarau berawal dari aktivitas manusia, salah satunya pembakaran sampah yang tidak diawasi hingga api merembet ke lahan kering di sekitarnya.
Kondisi angin dan vegetasi yang mengering membuat api lebih cepat menyebar dan sulit dikendalikan.
“Harapan kami kepada masyarakat, menyambut datangnya musim kemarau ini agar lebih waspada. Jangan sembarangan membakar sampah. Karena sampah yang dibakar kemudian tidak terkendali bisa menjadi api besar dan sulit dipadamkan. Lebih baik kita mencegah daripada melakukan pemadaman,” katanya.
"Terlebih saat kejadian kebakaran di TPA Pakusari kemarin. Diduga penyebabnya dari bekas puntung rokok. Tolong masyarakat lebih waspada dan hati-hati," imbuhnya.
Lebih lanjut kata Sidiq, untuk mengantisipasi meningkatnya risiko kebakaran selama musim kemarau, Damkarmat Jember memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Perhutani, pemerintah desa, aparat keamanan, dan instansi terkait lainnya.
Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat penanganan apabila terjadi kebakaran sekaligus menekan potensi kebakaran hutan dan lahan.
Selain itu, masyarakat diminta segera melaporkan setiap kejadian kebakaran melalui call center Damkar maupun kanal media sosial resmi agar petugas dapat bergerak cepat sebelum api membesar. Menurut Ahmad Sidiq, kecepatan pelaporan menjadi faktor penting dalam memutus penyebaran api.
“Kami berkoordinasi dengan semua lini lintas sektoral. Harapan kami apabila terjadi kebakaran bisa diminimalisir dan kalau bisa tidak terjadi sama sekali. Apabila ada kebakaran, segera laporkan ke call center kami. Penanganan yang cepat membuat api tidak menjalar dan lebih mudah dikendalikan,” tegasnya.
Sementara itu, salah seorang warga di Komplek Perumahan Istana Tegal Besar Kecamatan Kaliwates, Jember, Suhariyanto, mengatakan terkait kebakaran lahan tebu didekat komplek perumahan.
Ia berharap adanya perhatian serius dari pengelola perumahan dan juga warga.
"Bukannya menuduh, tapi terkadang kebakaran lahan itu disengaja. Karena kejadian kebakaran hampir terjadi setiap tahun, juga kalau kabar yang saya dengar. Pengelola lahan sengaja membakar lahannyay terus ditinggal," ujar pria yang akrab disapa Hary ini.
Kebakaran lahan itu terjadi, lanjutnya, setelah panen tanaman tebu. Kata Hary, dampak yang dirasakan warga adalah asap kebakaran yang mengganggu.
"Mungkin agar mempercepat proses pembersihan bekas tebu. Ya dibakar itu. Apalagi pemilik lahan itu, juga bukan warga perumahan sini," ungkapnya.
"Dampaknya ya yang jelas asap kebakaran itu ganggu pernapasan, apalagi banyak anak-anak di sini. Juga saat warga menjemur pakaian, ya kenan asapnya. Jadinya bau itu," imbuh Hary.
Editor : Wahyudi