KLIKJATIM.Com | Gresik – Libur Idul Fitri 1447 Hijriah membawa berkah bagi sejumlah destinasi wisata di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik. Salah satu yang ramai dikunjungi adalah Wisata Konservasi Mangrove Hijau Daun yang berada di Dusun Daun Laut, Desa Daun, Kecamatan Sangkapura.
Destinasi ini dikenal sebagai wisata konservasi berbasis masyarakat yang menawarkan keindahan alam sekaligus edukasi lingkungan. Keberadaannya menjadi daya tarik tersendiri karena berfokus pada pelestarian ekosistem mangrove dengan koleksi sekitar 24 jenis tanaman, lengkap dengan keanekaragaman hayati lainnya.
Pengunjung yang datang tidak hanya disuguhkan panorama hijau, tetapi juga berbagai fasilitas penunjang seperti pondok edukasi, menara pandang, jogging track, hingga wahana perahu kano. Tak sedikit wisatawan yang memanfaatkan lokasi ini untuk bersantai bersama keluarga, termasuk menggelar acara bakar ikan dan makan bersama.
Wisata ini juga merupakan binaan dari PLN Nusantara Power Bawean, yang turut mendukung pengembangan kawasan berbasis konservasi tersebut.
Ketua Kelompok Mangrove Hijau Daun, Subhan, menyebutkan selama masa libur Lebaran, jumlah pengunjung mencapai sekitar 1.800 orang. Angka itu dihitung sejak tiga hari setelah Lebaran hingga hari ketujuh.
“Pengunjungnya beragam, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Tiket masuk cukup terjangkau, Rp5 ribu untuk dewasa dan Rp2 ribu untuk anak-anak,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).
Ia menambahkan, tempat wisata ini buka setiap hari kecuali Jumat, mulai pukul 08.00 WIB hingga 16.30 WIB. Tingginya minat kunjungan bahkan sudah terlihat sejak sebelum Lebaran, terutama dari kalangan santri yang pulang ke kampung halaman.
“Sebenarnya saat Ramadan kami tutup, tapi karena banyak santri yang datang, akhirnya kami buka,” katanya.
Selain tiket reguler, pengelola juga menyediakan paket khusus bagi rombongan dari lembaga atau instansi, termasuk layanan edukasi mengenai ekosistem mangrove. Tarif kunjungan rombongan dipatok Rp250 ribu, dengan tambahan biaya Rp100 ribu jika membutuhkan pemateri.
Adapun untuk wahana perahu kano dikenakan tarif antara Rp10 ribu hingga Rp15 ribu. Sementara paket edukasi pengolahan mangrove dikenakan biaya Rp500 ribu per kelompok.
Tak hanya menyajikan wisata mangrove, kawasan ini juga memiliki berbagai kegiatan lain yang dikelola masyarakat, seperti budidaya udang dan kepiting, peternakan, hingga pengelolaan bank sampah.
Dalam hal pengelolaan pengunjung, Subhan menjelaskan tidak ada pembatasan saat momen hari raya. Namun pada hari biasa atau akhir pekan, jumlah pengunjung dibatasi maksimal 150 orang secara bergantian demi menjaga kapasitas kawasan.
Salah satu daya tarik utama di lokasi ini adalah menara pandang setinggi 17 meter dengan tiga lantai, yang memungkinkan pengunjung menikmati hamparan mangrove seluas sekitar 70 hektare dari ketinggian.
Untuk melengkapi pengalaman wisata, tersedia pula berbagai produk UMKM lokal seperti kaos, tikar, gantungan kunci, hingga sajadah. Semua dapat ditemukan di Pondok Patekang yang juga dilengkapi aula dan warung kopi.
Pengunjung juga bisa menikmati paket kuliner dengan harga mulai Rp250 ribu hingga Rp500 ribu, menyajikan menu khas seperti nasi gulung, rumput laut, udang, lobster, serta olahan berbahan dasar mangrove.
“Wisata konservasi ini tetap dirawat dan diawasi meskipun tidak ada pengunjung,” tegas Subhan.
Sementara itu, salah satu wisatawan, Wilfatin Najihah (27), mengaku terkesan dengan konsep wisata yang menggabungkan rekreasi dan edukasi lingkungan.
“Ini satu-satunya wisata di Bawean yang kaya edukasi dan konservasi. Rasanya benar-benar dekat dengan alam,” ungkapnya.
Editor : Abdul Aziz Qomar