klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Dzikir dan Tazkiyatun Nafs Jadi Terapi Spiritual Warga Sedagaran untuk Jaga Kesehatan Mental

avatar Abdul Aziz Qomar
  • URL berhasil dicopy

KLIKJATIM.Com | Gresik – Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu kesehatan mental, masyarakat Desa Sedagaran memilih pendekatan berbeda untuk menemukan ketenangan jiwa. Melalui pelatihan Dzikir dan Tazkiyatun Nafs yang digelar di Aula Desa Sedagaran, Rabu (13/5/2026), nilai-nilai Pendidikan Agama Islam dihadirkan sebagai terapi spiritual bagi masyarakat dalam menghadapi tekanan hidup sehari-hari.

Kegiatan pengabdian masyarakat tersebut tidak hanya menjadi agenda akademik semata, tetapi juga menghadirkan ruang refleksi dan penguatan spiritual di tengah berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan psikologis yang kini turut dirasakan masyarakat pedesaan.

Di era modern, kesehatan mental sering dikaitkan dengan layanan konseling profesional atau aktivitas healing yang identik dengan gaya hidup perkotaan. Namun di Sedagaran, pendekatan religius justru dipilih sebagai jalan alternatif untuk membantu masyarakat mengelola kecemasan dan tekanan batin.

Program ini lahir dari kesadaran bahwa persoalan kesehatan mental tidak hanya dialami masyarakat kota. Warga desa pun menghadapi berbagai tekanan psikologis, meski sering kali tidak terlihat dan jarang dibicarakan secara terbuka.

Kondisi tersebut diperparah dengan terbatasnya akses layanan psikologi profesional di wilayah pedesaan, ditambah masih kuatnya stigma negatif terhadap gangguan mental. Akibatnya, banyak masyarakat memilih memendam persoalan mereka sendiri tanpa pendampingan yang memadai.

Melalui pelatihan ini, dzikir tidak hanya dipahami sebagai ritual setelah salat, melainkan juga sebagai bentuk mindfulness atau ketenangan batin yang membantu seseorang mengendalikan pikiran dan emosi dengan mengingat Sang Pencipta.

Sementara itu, Tazkiyatun Nafs atau penyucian jiwa dikenalkan sebagai upaya membersihkan hati dari berbagai penyakit psikologis seperti iri hati, kecemasan berlebih, hingga rasa putus asa.

Peserta juga diajak memahami bahwa menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. Mereka dibekali keterampilan sederhana untuk mengelola stres secara mandiri melalui dzikir, muhasabah, dan pendekatan spiritual lainnya.

Antusiasme warga yang memenuhi aula desa menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap ruang-ruang penguatan mental dan spiritual yang mudah dijangkau serta sesuai dengan nilai budaya dan agama setempat.

Meski berlangsung dalam waktu singkat, pelatihan ini dinilai berhasil menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan jiwa sekaligus menghadirkan pendekatan preventif berbasis agama.

Ke depan, model pengabdian masyarakat seperti ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain, agar Pendidikan Agama Islam tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi benar-benar hadir sebagai solusi nyata bagi persoalan sosial dan psikologis masyarakat.

Editor :