klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Lebaran Ketupat di Madura, Tradisi Syawal yang Dinanti Usai Idulfitri

avatar Hendra
  • URL berhasil dicopy
ILUSTRASI. Anyaman ketupat dari janur tersaji sederhana, merekam kehangatan tradisi dan kebersamaan di momen Lebaran Ketupat. (doc. Istimewa/Klikjatim.Com)
ILUSTRASI. Anyaman ketupat dari janur tersaji sederhana, merekam kehangatan tradisi dan kebersamaan di momen Lebaran Ketupat. (doc. Istimewa/Klikjatim.Com)

KLIKJATIM.Com | Sumenep – Di kalangan masyarakat Madura, terdapat tradisi khas yang mengakar kuat bernama Tellasan Topak atau Tellasan Pettok. Dirayakan tepat pada hari kedelapan bulan Syawal, tradisi ini merupakan simbol rasa syukur kolektif usai menjalankan ibadah puasa sunnah enam hari setelah Idulfitri.

Tradisi yang lebih luas dikenal sebagai Lebaran Ketupat ini memiliki daya tarik yang unik. Sesuai namanya, perayaan ini identik dengan sajian ketupat—atau disebut topak dalam bahasa setempat—yang disantap bersama keluarga dan kerabat. Menariknya, kemeriahan Tellasan Topak di Pulau Garam kerap menyamai, bahkan dalam beberapa aspek melampaui suasana hari pertama Idulfitri.

Bagi sebagian besar masyarakat Madura, momen ini justru lebih dinantikan karena menghadirkan nuansa kebersamaan yang lebih panjang dan hangat. Fenomena ini terlihat dari banyaknya perantau asal Madura yang memilih memperpanjang masa tinggal di kampung halaman demi mengikuti perayaan tersebut.

Tidak sedikit dari mereka yang sengaja menunda kepulangan arus balik, atau justru baru pulang kampung beberapa hari setelah Idulfitri agar bisa merasakan puncak suasana Tellasan Topak.

Strategi ini sering diambil agar waktu berkumpul bersama keluarga besar terasa lebih lama dan maksimal. Hal inilah yang membuat atmosfer di desa-desa di Madura terasa lebih hidup dan berkesan pada hari kedelapan Syawal dibandingkan hari pertama lebaran.

Dari sisi kuliner, Tellasan Topak menawarkan variasi hidangan yang sangat menggugah selera. Meski ketupat menjadi menu wajib, pendampingnya sangat beragam tergantung selera keluarga, mulai dari topak ladeh, lontong mie, sayur lodeh, gulai, hingga kaldu kokot dan aneka soto. Selain ketupat, sajian lepet yang terbuat dari beras ketan, kelapa parut, dan kacang merah juga menjadi hidangan yang tidak boleh absen.

Proses pembuatan ketupat dan lepet pun menjadi bagian krusial dari tradisi ini. Kegiatan menganyam janur hingga mengisi beras biasanya dilakukan bersama-sama oleh keluarga besar. Suasana gotong royong inilah yang menjadi momen kebersamaan yang paling dirindukan setiap tahunnya.

Tak hanya soal makanan, perayaan ini juga diwarnai dengan tradisi ngelencer, yakni kegiatan bepergian bersama keluarga besar. Aktivitas ini bisa berupa piknik ke pantai maupun berziarah ke tempat-tempat religi. Selain sarana rekreasi, ngelencer juga menjadi momen perpisahan emosional sebelum para perantau kembali ke tanah rantaunya masing-masing.

Dengan seluruh rangkaian tersebut, Tellasan Topak bukan sekadar perayaan kuliner, melainkan momentum krusial untuk mempererat hubungan kekeluargaan. Bagi masyarakat Madura, Lebaran Ketupat adalah perwujudan kebahagiaan, kebersamaan, dan identitas budaya yang terus lestari dari generasi ke generasi.

Editor :