klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Mahasiswa UNEJ Inisiasi Kampung Tangguh Bencana di Jember

avatar Muhammad Hatta
  • URL berhasil dicopy
Mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) menginisiasi Program Kampung Tanggap Bencana (KAMTAB) di Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember
Mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) menginisiasi Program Kampung Tanggap Bencana (KAMTAB) di Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember

KLIKJATIM.Com | Jember  - Mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) menginisiasi Program Kampung Tanggap Bencana (KAMTAB) di Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember, sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana banjir yang berulang setiap tahun.


Program tersebut digagas melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) BEM Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNEJ. Desa Nogosari dipilih berdasarkan pemetaan dan data kebencanaan, terutama karena wilayah tersebut memiliki tingkat dampak banjir yang cukup tinggi.


Ketua Tim Pelaksana PPK Ormawa BEM FKM UNEJ, Savero Gian Purnomo, mengatakan Desa Nogosari memiliki lima dusun. Namun, berdasarkan pemetaan awal, dua wilayah menjadi kawasan yang paling terdampak banjir, yakni Dusun Krajan dan Dusun Gumuk Bago.


“Di Desa Nogosari ini ada lima dusun, dan yang paling terdampak banjir ada dua dusun, yaitu Dusun Krajan dan Dusun Gumuk Bago,” kata Savero saat dikonfirmasi sejumlah masyarakat di Jember, Kamis (20/8/2026).


Menurut dia, tim mahasiswa terlebih dahulu melakukan pemetaan dan audiensi dengan masyarakat serta pemerintah desa untuk mengetahui persoalan dan kebutuhan warga. Dari proses tersebut kemudian dirancang sejumlah inovasi yang tidak hanya berfokus pada penanganan saat bencana terjadi, tetapi juga pada upaya meningkatkan kesiapsiagaan sebelum banjir datang.


Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) berbasis Internet of Things (IoT). Perangkat tersebut dipasang pada titik pemantauan yang terhubung dengan aliran Sungai Bedadung, yang menjadi salah satu sumber ancaman banjir bagi wilayah tersebut.


“Pusat pemantauan banjir ini kami tempatkan di titik yang menjadi jalur datangnya air dari Sungai Bedadung. Di sana kami memasang IoT sebagai early warning system untuk memberikan peringatan dini ketika ketinggian air meningkat,” jelas Savero.


Perangkat tersebut menggunakan sensor gelombang ultrasonik untuk membaca ketinggian permukaan air. Ketika air mencapai ambang batas yang telah ditentukan, sistem akan memberikan alarm sehingga masyarakat dan pihak terkait memiliki waktu untuk melakukan langkah antisipasi maupun evakuasi.


Saat ini, satu perangkat EWS dipasang sebagai percontohan. Tim mahasiswa bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember, pemerintah desa, dan Desa Tangguh Bencana (Destana) masih melakukan penyesuaian terhadap batas ketinggian air yang akan menjadi pemicu alarm.


Savero menyebut ketinggian air yang menjadi acuan berada di kisaran 4 hingga 5 meter. Namun, untuk memberikan waktu antisipasi lebih awal, alarm direncanakan dipasang pada ambang sekitar 4 meter.


“Kemarin kami sudah koordinasi dengan BPBD, Destana, dan Pemerintah Desa Nogosari. Ketinggian air yang menjadi alarm masih kurang lebih 4 sampai 5 meter, tetapi nanti kami pasang sekitar 4 meter sebagai antisipasi dini,” ujarnya.


Lebih lanjut Savero menyampaikan, pemilihan Desa Nogosari bukan tanpa alasan. Selain berdasarkan hasil pemetaan, banjir disebut terjadi berulang setiap tahun dan berdampak terhadap jumlah warga yang cukup besar. 


Berdasarkan data yang menjadi acuan tim, dampak banjir di kawasan tersebut mencapai sekitar 700 kepala keluarga, terutama pada wilayah yang menjadi titik terdampak.


Selain EWS, mahasiswa UNEJ juga mengembangkan konsep Rumah Lindung Adaptif atau Si-LARUNG. Konsep tersebut berangkat dari rumah emergency milik desa yang sebelumnya digunakan sebagai tempat pengungsian ketika rumah warga mulai tergenang banjir.


Rumah emergency tersebut kemudian dikembangkan agar tidak hanya berfungsi sebagai tempat evakuasi, tetapi juga memberikan dukungan bagi warga selama berada di lokasi pengungsian. Dua titik percontohan Rumah Lindung Adaptif disiapkan di sekitar wilayah terdampak dengan mempertimbangkan akses pemerintah desa, Destana, dan BPBD.


“Awalnya rumah itu merupakan tempat pengungsian. Kemudian kami fasilitasi menjadi rumah lindung adaptif dengan sistem ketahanan pangan dan konsep yang lebih ramah bagi warga yang mengungsi, sehingga mereka mendapatkan sedikit kenyamanan ketika menghadapi bencana,” kata Savero.


Setiap rumah lindung yang menjadi percontohan disebut dapat menampung hingga sekitar 100 orang. Namun, dua rumah tersebut bukan dimaksudkan untuk menampung seluruh warga terdampak secara bersamaan.


Sebelum menentukan titik rumah lindung, tim mahasiswa melakukan pemetaan rumah emergency di seluruh wilayah Desa Nogosari. Pemetaan itu dilakukan untuk mengetahui kapasitas dan kesiapan tempat evakuasi di setiap dusun. Jika masih terdapat kekurangan, pemenuhan fasilitas akan dilakukan secara bertahap dengan menjadikan dua rumah tersebut sebagai model awal.


Program KAMTAB kemudian resmi diluncurkan melalui kegiatan yang dihadiri unsur pemerintah, lembaga kebencanaan, mitra, akademisi, dan masyarakat. Dalam kegiatan tersebut dilakukan pemotongan pita, penandatanganan komitmen kerja sama, penyerahan perangkat EWS dan website SI-INFO kepada pemerintah desa, serta simulasi penggunaan sistem pemantauan banjir.


Kepala BPBD Jember Edy Budi Susilo mengatakan pelaksanaan program tersebut menjadi salah satu bentuk kolaborasi dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana. 


BPBD juga memberikan arahan teknis terkait pemasangan EWS, mulai dari pemilihan lokasi, posisi sensor, sistem pemantauan hingga pemeliharaan perangkat.


“Yang perlu diperhatikan dalam pemasangan EWS banjir adalah lokasi yang strategis, posisi sensor, sistem pemantauan, serta pemeliharaan perangkat agar dapat berfungsi secara optimal,” ujar Edy.


Menurutnya, keberadaan EWS tidak cukup hanya dengan memasang perangkat. Sistem tersebut harus terhubung dengan mekanisme peringatan dini, penyebaran informasi kepada masyarakat, hingga prosedur evakuasi apabila terjadi peningkatan ancaman banjir.


“EWS harus terintegrasi dengan mekanisme peringatan dini, penyebarluasan informasi, dan evakuasi masyarakat di wilayah Desa Nogosari,” tegasnya.


Selain EWS dan Rumah Lindung Adaptif, KAMTAB juga memperkenalkan sejumlah inovasi lain, di antaranya SI-CARE, SI-Kencana, aquaponik dan budidaya lele, pengelolaan sampah, serta konservasi lingkungan. Inovasi tersebut diperkenalkan melalui Expo Inovasi Program bersamaan dengan peluncuran KAMTAB.


Savero mengatakan program yang dijalankan mahasiswa UNEJ saat ini memang difokuskan di Desa Nogosari karena merupakan bagian dari program PPK Ormawa yang telah mereka ikuti. Meski demikian, konsep yang dikembangkan diharapkan dapat menjadi contoh yang bisa diterapkan di wilayah lain dengan menyesuaikan karakteristik dan risiko bencana masing-masing daerah.


Dalam pelaksanaannya, tim mahasiswa juga menggandeng berbagai pihak, termasuk BPBD Jember dan Destana Rambipuji untuk berbagi pengalaman serta memperkuat kapasitas pengelolaan kebencanaan di tingkat masyarakat.


“Bukan berarti ketika kami melakukan pemberdayaan di Nogosari, program ini tidak bisa dilakukan di desa lain. Kami juga menggandeng mitra dan melakukan studi banding, sehingga ilmu yang didapat tidak hanya dari pemateri ahli, tetapi juga dari pengalaman desa lain,” pungkas Savero.

Editor :