KLUKJATIM.Com | Bojonegoro – Ambisi besar untuk memperkuat kedaulatan pangan nasional digelorakan dari hamparan sawah Desa Bayemgede, Kecamatan Kepohbaru, pada Sabtu (28/2/2026).
Bupati Bojonegoro, H. Setyo Wahono, bersama Wakil Bupati dan tim ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM) turun langsung dalam agenda Panen Raya Padi Varietas Gamagora 7.
Momentum ini bukan sekadar seremoni panen biasa. Dalam kesempatan tersebut, Setyo Wahono secara tegas memasang target ambisius bahwa pada tahun 2028, Kabupaten Bojonegoro harus mampu mengukuhkan posisi sebagai produsen padi tertinggi di tingkat nasional.
“Pertanian adalah prioritas utama kami. Mimpi kami jelas, Bojonegoro menjadi lumbung pangan nasional yang berkelanjutan. Hari ini kita buktikan, produktivitas GKG mencapai 10 ton per hektare. Artinya, inovasi benih dan manajemen air itu nyata dampaknya,” tegas Setyo Wahono di sela kegiatan panen.
Menurut Wahono, terdapat empat persoalan klasik yang selama ini menjadi tantangan bagi petani di Bojonegoro, yakni ketersediaan air, serangan hama, kualitas bibit, serta keterbatasan peralatan pertanian.
Menjawab hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro terus melakukan pembenahan infrastruktur secara masif. Tercatat dalam setahun terakhir, jaringan irigasi sepanjang 24.248 meter telah dibangun, 23 embung dilakukan normalisasi, serta optimalisasi pada 16 titik irigasi pompa (irpom).
Langkah strategis ini membuahkan hasil signifikan, di mana produksi padi Bojonegoro tahun 2025 berhasil menembus angka 886.443 ton. Jumlah tersebut mengalami lonjakan sebesar 176.916 ton atau naik 24,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Tren positif ini diharapkan tetap terjaga meskipun BMKG memprediksi pola cuaca pada tahun 2026 akan cenderung normal.
Salah satu kunci utama dari optimisme tersebut adalah penggunaan Varietas Gamagora 7. Padi hasil inovasi ilmuwan UGM ini dijuluki sebagai padi “amfibi” karena kemampuannya tumbuh optimal baik di lahan kering (gogo) maupun lahan basah (rancah).
Selain adaptif, varietas ini memiliki ketahanan terhadap wereng batang cokelat biotipe 2, hawar daun bakteri patotipe III, serta penyakit blast, dengan karakteristik rasa yang pulen karena berasal dari indukan padi Rojolele.
Setyo Wahono berharap Bojonegoro tidak hanya sekadar menjadi lokasi percontohan atau demplot, tetapi juga mendapatkan akses lisensi benih secara masif untuk pembibitan dan penanaman skala luas.
“Kami ingin Gamagora 7 benar-benar dimanfaatkan luas oleh petani Bojonegoro. Ini bagian dari strategi besar menuju 2028,” ujarnya menambahkan.
Menanggapi harapan tersebut, Wakil Dekan Bidang Kerja Sama Fakultas Pertanian UGM, Subejo, menyambut positif langkah Pemkab Bojonegoro. Pihak UGM menyatakan kesiapan untuk memberikan lisensi terbatas Benih Label Ungu selama tiga tahun agar Bojonegoro mampu memproduksi bibit secara mandiri.
“Potensinya besar. Jika dimasifkan dengan pendampingan teknis yang konsisten, Bojonegoro bisa melampaui produktivitas nasional,” tandas Subejo.
Kini, fokus utama terletak pada konsistensi pelaksanaan di lapangan. Dengan perbaikan infrastruktur yang terus berjalan, adopsi inovasi benih unggul, serta komitmen kuat dari kepala daerah, Bojonegoro tampak sangat serius dalam mengukir sejarah baru sebagai episentrum pangan nasional.
Editor : Fatih