KLIKJATIM.Com | Gresik –Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI), Tony Wenas, memastikan fasilitas Smelter PTFI di kawasan Java Integrated and Industrial Estate Pulau Jawa (JIIPE) Gresik akan kembali beroperasi pada April 2026.
Kepastian ini disampaikan menyusul terhentinya aktivitas produksi akibat insiden longsor di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) pada September 2025.
Menurut Tony, pasokan konsentrat saat ini masih terbatas karena produksi tambang pasca insiden baru mencapai sekitar 30 persen, atau 65–70 ribu ton per hari dari kapasitas normal 200 ribu ton per hari. Kondisi ini membuat Freeport belum mampu memasok dua smelter sekaligus sehingga prioritas sementara difokuskan ke PT Smelting.
“Smelter Gresik untuk sementara belum dapat beroperasi karena pemulihan penuh sangat bergantung pada kesiapan kembali tambang GBC,” ujarnya dalam sesi doorstop di Gresik, Selasa.
Meski demikian, Tony menegaskan tidak ada karyawan PTFI yang mengalami PHK. Perusahaan hanya melakukan penyesuaian jadwal kerja, sementara jumlah pekerja kontraktor berkurang karena smelter belum memasuki fase operasi penuh.
Ia memperkirakan kegiatan penambangan di GBC dapat dimulai kembali pada Maret 2026. “Jika kami bisa mulai menambang lagi pada Maret, maka konsentrat bisa dikirim ke smelter pada April. Harapannya pada bulan itu operasi bisa pulih,” jelasnya.
Sambil menunggu suplai konsentrat, tim di Gresik difokuskan pada pemeliharaan rutin dan persiapan teknis lainnya agar smelter siap beroperasi ketika pasokan kembali tersedia.
“Saat ini kami melakukan maintenance dengan jadwal yang disesuaikan. Belum ada proses produksi, tetapi seluruh tim tetap stand by agar siap ketika konsentrat kembali masuk,” katanya.
Tony menambahkan, sebelum pasokan dari GBC terhenti, kenaikan kapasitas produksi smelter telah mencapai 70–80 persen. Jika pasokan tidak terganggu, dengan sisa waktu tiga bulan pada Oktober–Desember 2025, fasilitas tersebut diperkirakan dapat mencapai kapasitas maksimal.
“Karena pasokan berhenti, smelter juga berhenti. Kami terus melakukan proses heating up, maintenance, penetralan area, serta perbaikan teknis agar ketika operasi dimulai kembali, smelter bisa langsung berjalan, meski dengan peningkatan bertahap,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Kementerian PPN/Bappenas melakukan peninjauan langsung untuk memastikan operasional smelter tetap sejalan dengan agenda hilirisasi mineral nasional.
Smelter PTFI di Gresik menyerap sekitar 2.000 tenaga kerja saat beroperasi penuh—terdiri dari 1.200 pekerja kontraktor dan 800 karyawan PTFI. Selama masa konstruksi, proyek ini telah melibatkan total sekitar 40.000 tenaga kerja secara kumulatif.
Adapun penghentian operasional pada akhir 2025 terjadi karena terputusnya pasokan konsentrat dari GBC akibat longsor bijih basah pada 8 September 2025. Kejadian tersebut memaksa penghentian sementara kegiatan penambangan dan distribusi bijih.
Pemerintah melalui Kementerian ESDM memastikan bahwa tambang GBC hanya dapat kembali dioperasikan setelah audit keselamatan dan perbaikan infrastruktur selesai dilakukan. Dua tambang bawah tanah lain yang tidak terdampak, yakni Deep Mill Level Zone (DMLZ) dan Big Gossan, telah mendapatkan izin beroperasi kembali, namun belum dapat menghasilkan produksi penuh sehingga pemulihan GBC menjadi kunci keberlanjutan suplai konsentrat ke Smelter Gresik.
Dengan target restart terbatas pada Maret–April 2026, pemulihan suplai bijih akan sangat menentukan kecepatan smelter PTFI kembali beroperasi normal dan memberi kontribusi penuh bagi hilirisasi mineral serta capaian produksi nasional.
Editor : Abdul Aziz Qomar