klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Soroti Pengeboran Gas Penyebab Penurunan Tanah, Mahasiswa di Sidoarjo Demonstrasi ke DPRD

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy
Demonstrasi mahasiswa Sidoarjo menuju kantor DPRD. (Satria Nugraha/klikjatim.com)
Demonstrasi mahasiswa Sidoarjo menuju kantor DPRD. (Satria Nugraha/klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Sidoarjo - Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sidoarjo dan Aliansi Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo menggelar aksi unjuk rasa (Unras) ke kantor DPRD. Mereka menyuarakan sejumlah isu nasional seperti jabatan presiden 3 periode, pajak pertambahan nilai (PPN), mahalnya BBM dan minyak goreng.

Selain itu mahasiswa juga membawa isu lokal. Yaitu pengeboran gas di Sidoarjo yang menyebabkan penurunan tanah di Desa Kedungbanteng dan Banjarasri, Kecamatan Tanggulangin.

"Di Sidoarjo telah ada dua puluh titik pengeboran. Celakanya, di dua desa di Kecamatan Tanggulangin, pengeboran menyebabkan penurunan tanah yang luar biasa," jelas korlap aksi Ilham Arrasyid, Selasa (12/4/2022).

Setiap kali hujan, lanjut Ilham, rumah mereka pasti terendam dan butuh waktu sangat lama untuk kering. Meski masuk musim kemarau, tapi rumah mereka tetap saja terendam karena desa mereka ambles.

"Kami mendesak kepada legislatif agar menekan pihak eksekutif mencari solusi terbaik untuk menyelamatkan warga di dua desa tersebut. Karena penurunan tanah di sana sangat banyak," imbuhnya.

Massa aksi mahasiswa berangkat dari Kampus Universitas Muhammadiyah di Desa Gelam Candi sekitar pukul 09.00 WIB. Mereka berarakan menggunakan sepeda motor dan menggunakan seluruh lajur yang mengakibatkan kemacetan panjang. 

Setibanya di gedung dewan sekitar pukul 10.30 Wib, mereka langsung berorasi menyuarakan tuntutan. Setelah itu peserta aksi pun masuk ke halaman kantor dewan dan ditemui Ketua DPRD Usman.

Usman mengatakan, ada sejumlah isu nasional dari aspirasi mahasiswa Sidoarjo terkait masalah BBM, kelangkaan migor, perpanjangan masa jabatan presiden dan penundaan pemilu.

"Dari semua isu tersebut kami menerima aspirasinya, yang memutuskan adalah instansi terkait. Kami mengapresiasi teman mahasiswa. Gerakan harus dimulai dari bawah dengan cara diselesaikan secara bersama-sama," kata Usman. (nul)

Editor :