klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Protes Mahalnya Kedelai, Produsen Tahu Tempe di Sidoarjo Ancam Mogok Produksi Tiga Hari

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy
Sukari menunjukkan selebaran ajakan mogok produksi. (Satria Nugraha/klikjatim.com)
Sukari menunjukkan selebaran ajakan mogok produksi. (Satria Nugraha/klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Sidoarjo – Produsen tahu dan tempe di Sidoarjo bakal mogok produksi selama tiga hari. Hal ini sebagai bentuk protes kepada pemerintah atas mahalnya harga kedelai.

Ketua Primer Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Primkopti) Sidoarjo Karya Mulya, Sukari mengatakan, aksi mogok produksi tersebut dilakukan secara nasional. Bahkan dirinya juga sudah menerima surat edaran dari Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu (Gakoptindo), terkait mogok produksi selama tiga hari mulai tanggal 21 sampai 23 Februari 2022 mendatang.

Awalnya ajakan mogok ini hanya berlaku di wilayah Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek) saja. Tapi sekarang berkembang secara nasional.

Sukari menjelaskan, ajakan mogok tersebut merupakan dampak tingginya harga kedelai impor yang menjadi bahan baku tempe dan tahu. "Saat ini harga kedelai telah tembus Rp11 ribu perkilogram. Padahal harga ekonomisnya Rp9 ribu hingga Rp9.500. Ini tentu sangat berat bagi kami," terangnya, Rabu (16/2/2022).

Sehingga untuk menyiasatinya, para pengusaha kecil atau produsen tempe dan tahu terpaksa mengurangi ukuran. "Kalau menaikkan harga akan susah. Meskipun laba semakin terkikis, kami tetap bertahan. Namun bila harga kedelai setinggi ini, bisa mati (para pelaku usaha kecil) ini," ucapnya.

Dia menuturkan jumlah produsen tempe dan tahu di Desa Sepande, Kecamatan Candi sekitar 250 orang. Mereka pun serentak mengikuti anjuran mogok produksi. "Kami berharap ada perhatian dari pemerintah. Dengan subsidi atau cara lain agar harga kedelai bisa turun," harapnya.

Sementara itu, Arif Lukman (22) salah satu produsen tempe di Kecamatan Jabon mengatakan, harga kedelai yang menyentuh angka Rp11 ribu merupakan harga yang keterlaluan. Dia merasa dengan harga kedelai yang terus merangkak naik akan membuat produsen tempe di Sidoarjo gulung tikar.

"Dengan harga kedelai terus naik, kami di Sidoarjo lama-lama bangkrut. Karena kami tidak berani menaikan harga tempe," kata Arif.

Pihaknya juga sudah mengetahui terkait edaran untuk aksi mogok produksi tersebut. (nul)

Editor :