KLIKJATIM.Com| Surabaya - Ribuan pelanggan gas rumah tangga milik PGN di Surabaya dan sekitarnya dibuat pening oleh kenaikan harga gas yang mencapai 2 kali lipat dari biasanya. Akibatnya, banyak pelanggan yang komplain ke kantor PGN head office Surabaya Jl Pemuda.
[irp]
Kenaikan yang cukup mencekik dompet ini membuat pelanggan berpikir untuk putus langganan. Mereka berencana beralih menggunakan kompor induksi yang dirasa cukup murah dibanding langganan gas PGN.
Protes kenaikan harga gas disampaikan Ina Pratama melalui akun twitter@inananinuna. Dalam unggahannya Ina menyebutkan biasanya tiap bulan dia bayar tagihan gas tidak lebih dari satu juta rupiah. Namun tiba-tiba tagihan bulan Desember membengkak menjadi Rp 1.900.000 untuk pemakaian 85 meter kubik.
"Karena kenaikan tagihannya tidak wajar, saya mencoba menghubungi customer care PGN. Namun dua kali saya hubungi tidak tersambung. Saat saya datang ke Kantor PGN Jl Pemuda Surabaya ternyata banyak pelanggan yang komplain. Saking banyaknya yang komplain, layanan pelanggan membatasi kunjungan keluhan pelanggan," kata Ina Pratama.
Dalam unggahanya itu, Ina juga memposting foto antrean pelanggan yang hendak komplain ke layanan pelanggan. Karena dibatasi, pelanggan hanya berdiri di halaman dan sebagian lesehan karena tanpa disediakan tempat duduk.
Keluhan senada disampaikan Yuliatur Rochmah, pelanggan PGN asal Perumahan Pondok Permata Suci. Dia terkejut saat hendak membayar tagihan rupanya naik dua kali lipat.
"Ini sih tidak naik tapi ganti harga. Masak gas jarang saya pakai biasanya hanya Rp 65 ribu ini naik menjadi Rp 125 ribu. Yang saya kecewakan itu kenapa PGN tidak mensosialisasikan kenaikan harga gas pelanggan rumah tangga ini," kata ibu rumah tangga ini.
Komplain terhadap kenaikan harga gas ini membuat sebagian pelanggan menyarankan untuk beralih menggunakan kompor induksi. Nadya Paramita, pelanggan asal Surabaya mengaku dirinya sudah mencoba kompor induksi.
Hitungannya, dengan daya listrik 2.200 bisa gunakan kompor induksi tiap hari. Kemudian di akhir bulan saat muncul tagihan, ternyata ada kenaikan Rp 40 ribu.
"Itu artinya dalam sebulan saya hanya bayar tambahan listrik Rp 40 ribu untuk penggunaa kompor induksi. Coba kita beralih pakai kompor induksi, protes atas kenaikan harga gas pasti tidak ada lagi," kata Nadya Paramita.
Atas keluhan ini,
Irfan Kurniawan, Corporate Relation PT PGN Region Distribution 2 Jatim mengatakan, penyesuaian tarif di Surabaya, Sidoarjo dan Gresik disamakan dengan tarif daerah lain seperti Pasuruan dan Probolinggo yang sudah terlebih dulu dikenai tarif Rp4.250 sejak pertama kali pemasangan.
“Penyesuaian di Surabaya disamakan dengan daerah lain. Di Pasuruan, Probolinggo harga Rp4.250 sudah diterapkan sejak pertama kali mereka berlangganan. Sedangkan di Surabaya sejak 2007 belum pernah ada penyesuaian, jadi disamakan saja dengan daerah lain,” kata Irfan saat dihubungi via WA, Rabu (8/12/2021).
Irfan menjelaskan, tarif lama golongan RT 1 sebesar 2.495, saat ini menjadi Rp4.250 per meter kubik.
Penyesuaian ini, kata Irfan merupakan kebijakan dari BPH Migas dengan alasan untuk peningkatan infrastuktur.
“Kami (PGN) sifatnya melaksanakan kebijakan BPH Migas. Kalau alasan dari BPH Migas sejak 2007 belum disesuaikan, sedangkan infrastruktur jargas (jaringan dan gas) terus dibangun jadi dengan adanya peningkatan infrastruktur diperlakukan penyesuaian harga yang lama belum disesuaikan,” jelasnya.
Sedangkan untuk sosialisasi yang belum merata, diakuinya karena banyaknya pelanggan PGN di Surabaya, Sidoarjo dan Gresik sekitar 42.000.
“Kami berusaha agar semuanya tersampaikan, memang ada seperti Sidoarjo yang kami mampu mengirimkan surat person to person. Mungkin ada beberapa pelanggan di Surabaya yang tidak sampai,” paparnya. (ris)
Editor : Redaksi