KLIKJATIM.Com | Malang - Zaman sudah maju, teknologi berkembang pesat namun masih ada warga di Kabupaten Malang yang hidup traadisional, salahsatunya tidak memiliki WC atau jamban di rumahnya. Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bapenda) Kabupaten Malang, ada sebanyak 707.765 kepala keluarga (KK) yang sudah memiliki jamban sehat atau 96,454 persen.
[irp]
Kepala Bapenda Kabupaten Malang, Tomie Herawanto menyebut, sisanya sebanyak 26.020 KK atau 3,546 persen masih belum memiliki jamban, yang didominasi di pelosok daerah seperti di Kecamatan Sumbermanjing, Gedangan, dan lain-lain.
“Kami menindaklanjutinya dengan membangunkan MCK (Mandi, Cuci, Kakus) bagi warga yang belum mempunyai. Polanya dengan padat Karya yang melibatkan masyarakat sekitar,” kata Tomie Herawanto, Kamis (19/8/2021).
Dengan adanya rencana pembangunan MCK ini dipercaya akan meningkatkan sanitasi di masyarakat, dan menjadikan pola hidup masyarakat bisa menjadi lebih sehat. “Selain itu, bisa meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar, karena proyek pembangunan ini melibatkan masyarakat sekitar sebagai penggarapnya,” jelasnya.
Tomie menjelaskan, proyek pembangunan MCK ini juga sebagai bentuk menunjang program Pemulihan Ekonomi Nasional akibat adanya Covid-19. “Kalau tidak dalam keadaan covid, bisa diselesaikan dengan pihak ketiga. Tapi kali ini melibatkan masyarakat. Kami memaksimalkan yang tidak mempunyai pekerjaan. Sehingga mereka bisa mendapatkan penghasilan,” terangnya.
Tomie menegaskan, untuk anggaran dalam pembangunan MCK tersebut, diambilkan dari dana refocusing dan re-alokasi yang dilakukan beberapa waktu lalu yang mencapai kurang lebih Rp300 miliar.
“Walau menggunakan APBD, saya meminta pemerintah desa juga berperan dengan menggunakan APBDes nya itu,” pintanya.
Dengan begitu, lanjut Tomie, dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan merubah perilaku hidup sehat, karena telah memiliki jamban yang diharapkan bisa prilaku kebiasaan melakukan aktivitas BAB atau yang lainya di sungai. “Yang biasanya berprilaku BAB ke sungai bisa di ubah, jadi bisa mengubah perilaku dan budaya itu,” pungkasnya. (ris)
Editor : Redaksi