klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Selama Mei, 102 Warga Ponorogo Meninggal Karena Covid

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy
Tangkapan layar data Covid-19 di Ponorogo. (Fauzy Ahmad/klikjatim.com)
Tangkapan layar data Covid-19 di Ponorogo. (Fauzy Ahmad/klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Ponorogo - Sedikitnya 102 warga Ponorogo dilaporkan meninggal dunia karena Covid-19. Hal itu sesuai rilis dari laman instagram @dinkesjatim.

[irp]

Dalam laman itu, tanggal 30 April dilaporkan ada 297 meninggal dunia karena Covid-19. Lalu pada 31 Mei yang meninggal ada 399 pasien secara kumulatif. Sehingga dalam satu bulan terakhir untuk kasus meninggal karena Covid-19 di Ponorogo, totalnya sebanyak 102 pasien atau orang.

"Adanya data tersebut saya menyampaikan bahwa harus jaga jarak dan lain sebagainya. Artinya harus saling berhati-hati," tutur Sekda Ponorogo, Agus Pramono, Senin (7/6/2021).

Agus berharap kenaikan tajam yang meninggal harus menjadikan sebuah edukasi. Dimana pentingnya menjaga protokol kesehatan (prokes). Terutama untuk menekan angka penyebaran Covid-19 di bumi Reog.

"Misal si A periksa di RS A dinyatakan positif, kemudian di RS B dinyatakan negatif. Saya pastikan pemeriksaannya berselang. Karena selama CT-nya bagus di angka 36-38 selang sehari saja bisa dinyatakan negatif," tegas Agus.

Menurut Sekda yang juga menjabat plt Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes), pembentukan antibodi tiap orang berbeda. Sehingga berpengaruh terhadap hasil pemeriksaan.

"Beda sekian jam dari pemeriksaan awal ada perubahan pembentukan antibodi dan seterusnya itu berpengaruh terhadap hasil tes," papar Agus.

Dari klaster sekian ratus itu memamg terbanyak adalah klaster keluarga. Agus pun menyontohkan, meski saat ini berbagai kegiatan digalakkan prokes tetapi virus Covid-19 tetap berbahaya. Salah satunya muncul klaster di kalangan dinkes sendiri.

"Satu contoh ada beberapa klaster di dinkes sendiri kemarin sebetulnya Bu Kadinkes melakukan semi, kayak apa ya perpisahan berdiri seperti itu ternyata masih ada yang kena. Intinya ya tetap harus berhati-hati terutama pemahaman masyarakat," pungkas Agus. (nul)

Editor :