KLIKJATIM.Com | Ponorogo - Ponorogo kaya akan kuliner. Sebut saja serabi yang biasa dihidangkan sebagai sarapan pagi bagi warga bumi reog. Bahkan pada bulan ramadan juga tak jarang sebagai takjil berbuka puasa.
[irp]
Meski sederhana, namun kue serabi yang berbentuk bulat berwarna putih dengan cita rasa gurih ini masih banyak diminati. Dan menariknya, proses pembuatan kue serabi ternyata masih tetap menggunakan cara tradisional.
Minggu (9/5/2021), Klikjatim.com pun berkesempatan untuk melihat langsung proses pembuatan kue serabi tersebut. Endang Papik, seorang penjual serabi terlihat begitu cekatan saat memasak kue serabi. Mulai dari mengambil adonan kue dan ditaruh di atas kereweng atau wajan dari tanah liat. Proses memasaknya pun masih menggunakan kayu bakar.
Selang beberapa saat, kue serabi pun matang. Kemudian diangkat dan disajikan lengkap dengan toping parutan kelapa.
Perpaduan rasa gurih dan asin semakin menggoyang lidah para penikmatnya. Harganya yang terjangkau membuat jajanan satu ini diminati masyarakat.
"Saya sudah menjual selama 20 tahun. Dan merupakan generasi ke lima," ujar penjual kue serabi, Endang Papik membuka percakapan kepada klikjatim.com, Minggu (9/5/2021).
Dikatakan, kue serabi Ponorogo berbeda dengan Serabi Solo atau Surabi Bandung. Untuk kue serabi Ponorogo rasanya gurih. Sedangkan serabi lainnya cenderung manis dan lembek.
"Kalau serabi ini kesat, kalau serabi Solo lembek," jelas Endang.
Saat ditanya resep, Endang menambahkan, hanya memakai bahan tepung beras, kelapa parut dan garam. Serabi buatannya pun memiliki cita rasa asin dan gurih.
Dengan resep itu, dalam sehari dia mampu menghabiskan 20 liter atau sekitar 40 adonan. Untuk satu porsi serabi dibanderol Rp 5 ribu untuk 5 potong kue.
Saat disinggung omzet per harinya, Endang mengaku bisa mengantongi hingga Rp 1,2 juta. "Sehari bisa seribu (1.000) potong kue terjual," ujar Endang.
Lokasi jualan Endang berada di Kerun Ayu, Desa Ploso Jenar, Kecamatan Kauman. Atau jalan penghubung antara jalur Ponorogo dengan Wonogiri.
Namun di tengah pandemi Covid-19 yang belum berakhir ditambah dengan kabar larangan mudik hari raya Idul Fitri, telah membuat Endang was-was. Pasalnya, momen mudik menjadi satu-satunya harapan bisa meraup keuntungan.
"Biasanya banyak orang luar kota mampir ke sini untuk beli oleh-oleh. Tapi sejak adanya larangan mudik, ya bisa dipastikan jualan saya tidak akan sebanyak dulu," kata Endang.
Wanita berumur 40 tahun ini juga mengaku, saat bulan Ramadan buka warungnya pada siang hari sampai magrib. Jika di luar bulan puasa, bukanya sejak pagi sampai sore.
"Kan kalau ramadan bisa buat takjil. Lebaran nanti, saya hari raya kedua buka lagi," pungkasnya. (nul)
Editor : Fauzy Ahmad