KLIKJATIM.Com | Surabaya - Provinsi Jawa Timur terus menggenjot investasi di wilayahnya untuk mempercepat pertumbuhan ekonominya. Jika tahun 2020 lalu realisasi investasi Jatim tumbuh 33,8 persen (yoy) lebih tinggi dari nasional yang tumbuh 2,1 persen (yoy). Untuk tahun ini, investasi yang masuk diharapkan mampu menembus angka Rp 100 triliun.
[irp]
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Timur Aris Mukiyono berharap realisasi investasi meningkat 25 persen dari tahun 2020 yang mencapai Rp 78,3 Triliun. "Harapan kami ketika Pandemi Covid-19 sudah turun dan ekonomi mulai menggeliat maka realisasi investasinya mencapai Rp 100 - 120 Triliun. Kenapa lebih tinggi, karena nilai investasi dari Rosneft mencapai Rp 230 Triliun," ujar Aris.
Dikatakan, realisasi investasi mengalami penurunan mulai tahun 2016 hingga 2018. Namun mulai mengalami peningkatan pada tahun 2019. Realisasi investasi tahun 2020 merupakan yang tertinggi sejak lima tahun terakhir. Saat ini Rosneft yang akan membangun kilang minyak di Tuban sedang melakukan pembebasan lahan. Ia berharap tahun 2021 sudah melakukan bargain (proses tawar)."Paling tidak ada tambahan sebanyak Rp 30 triliun sehingga target sudah bisa terpenuhi. Kemudian Bandara Kediri yang juga mulai pembebasan lahan. Nah untuk Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) di Gresik jika sudah menjadi kawasan manufaktur dan teknologi tinggi kabarnya akan ada tujuh investor dari Taiwan yang akan masuk ke Jatim," terangnya.
Ditambahkan, jika dilihat dari sektor, realisasi investasi dari Penanaman Modal Asing (PMA) didominasi oleh sektor industri kimia dan farmasi. Sementara untuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) didominasi oleh sektor transportasi, gudang dan telekomunikasi. "Kalau dilihat dari segi lokasi, realisasi PMA terbesar berada di Kabupaten Tuban yakni PT Pertamina Rosneft pengolahan dan Petrokimia. Merealisasikan investasi sebesar Rp 4,9 Triliun di sektor kimia dan farmasi," jelasnya.
Menurutnya untuk PMDN lokasi terbesar realisasinya adalah Surabaya. Yakni PT Pelabuhan Indonesia III merealisasikan investasi sebesar Rp 5,2 Triliun di sektor transportasi, gudang dan telekomunikasi. "Untuk negara yang paling banyak melakukan realisasi investasi adalah Singapura. Ada dua sektor yakni dari sektor industri kimia dan farmasi sebesar Rp 6,6 Triliun, kemudian sektor industri makanan Rp 2,1 triliun," tuturnya.
Negara terbesar kedua adalah Jepang dengan industri kayu senilai Rp 0,8 Triliun. Kemudian industri mesin, elektronik dan lainnya dengan nilai investasi Rp 0,7 Triliun. Ketiga adalah Korea Selatan dengan sektor indutri kimia dan farmasi dengan nilai investasi Rp 2 Triliun. Selain itu indutri barang dari kulit dan alas kaki senilai Rp 0,1 Triliun.
"Negara keempat adalah Hongkong dengan industri mineral non logam senilai Rp 1,5 Triliun. Dan industri logam dasar, barang logam da bukan mesin senilai Rp 0,3 Triliun. Negara terakhir adalah Amerika Serikat dengan pertambangan senilai Rp 0,7 Triliun dan industri makanan senilai 0,4 Triliun," pungkasnya. (ris)
Editor : Much Taufiqurachman Wahyudi