KLIKJATIM.Com I Probolinggo – Ini bukan kisah sedih pekerja wanita Indonesia di luar negeri. Ini cerita Pariyem yang mendapat perlakuan tak manusiawi dari majikannya di Probolinggo. Kelaparan karena tak diberi makan hingga mendapat kekerasan fisik membuat perempuan 44 tahun itu melarikan diri, berhasil.
[irp]
Cerita tak berhenti disini. Warga yang iba terhahap Pariyem mendorongnya untuk melapor ke pihak berwajib. Janda yang memiliki satu anak itu mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SKPT) Polres Probolinggo Kota. Ia datang bersama putrinya yang berusia 10 tahun, dan anak tirinya, Chandra. Selain itu, Pariyem didampingi Ketua RT 4 – RW 1 Kelurahan Tisnonegaran, Titik.
Malam itu mereka bersama-sama berangkat dari rumah Chandra di Gg Priksan, Kelurahan Wiroborang, Kecamatan Mayangan. Usai melapor, Pariyem bersama anaknya dan Ketua RT Titik dibawa ke ruang penyidik untuk dimintai keterangan.
Titik mengatakan warga terpaksa menempuh jalur hukum, karena Pariyem telah dianiaya dengan cara dipukul dan ditampar. Bahkan putri Pariyem juga pernah dipukul kepalanya hingga membekas.
Titik mengatakan korban kelaparan karena tidak diberi makan. “Masak sampai ngais makanan di tempat sampah. Ada lho videonya. Warga yang merekam video,” ungkapnya malam itu.
Pariyem juga pernagh dituduh mencuri perhiasan emas dua kali oleh majikan perempuannya. “Saya dengar seperti itu. Yang pertama sudah tidak ada masalah, karena dikembalikan. Kalau yang kedua ini, saya tidak tahu. Apa sudah dikembalikan atau tidak,” ujarnya.
Pariyem bekerja menjadi asisten rumah tangga pasutri USdan MN. Pasutri tersebut tinggal di rumah milik mantan calon walikota Probolinggo Dewi Ratih, di Jl Juanda, Tisnonegaran Kota Probolinggo.
Selama bekerja, Pariyem mendapat perlakuan tidak baik. Gajinya tidak dibayarkan sejak 2014. Meskipun gaji Pariyem hanya Rp 300 ribu per bulan. Kebiasaan majikan perempuan melakukan kekerasan pada Pariyem dan putrinya.
Karena kelaparannya, Selasa pagi lalu Pariyem yang kelahiran Solo, kabur dari rumah tempatnya bekerja. Bersama putrinya, Pariyem kemudian mengais-ngais sampah di depan gerai PHD di mulut Jl Arif Rahman Hakim.
Kejadian itu disaksikan warga. Pariyem kemudian dibawa warga menemui US dan MN meminta pertanggung-jawaban. Pertemuan itu disebutkan berakhir damai. Gaji Pariyem dibayar, senilai Rp 12,6 juta.
Namun, pada Selasa malam, warga mengajak Pariyem melaporkan kasus ini ke kepolisian. Sebab, ada tindak penganiayaan yang dialami Pariyem. Bagi warga, kejadian ini harus tetap diproses hukum.(*)
Editor : Wahyudi