KLIKJATIM.Com | Gresik – Limbah organik tak selalu berakhir menjadi sampah. Di sejumlah wilayah sekitar perusahaan, limbah justru dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem budidaya yang menghasilkan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Konsep tersebut diterapkan PT Petrokimia Gresik melalui program Gerakan Masyarakat Budidaya Ayam dan Ikan Lele Asri (GEMBALA) Lestari Bumi. Program ini menyasar masyarakat di delapan kelurahan/desa sekitar perusahaan dengan menggabungkan budidaya ayam petelur, maggot, ikan lele, tanaman, serta pengolahan limbah organik.
Baca juga: Petrokimia Gresik Bawa Isu Talenta dan Pertanian Berkelanjutan ke Forum PBB di New York
Program ditandai dengan penyerahan bantuan secara simbolis di Kelurahan Kroman. Seluruh bantuan untuk delapan kelurahan/desa penerima kini telah didistribusikan.
Sekretaris Perusahaan Petrokimia Gresik, Nuril Huda, mengatakan GEMBALA tidak hanya diarahkan untuk menyediakan sarana budidaya. Program tersebut dirancang sebagai satu ekosistem yang memungkinkan sumber daya di lingkungan masyarakat dimanfaatkan kembali.
“Program GEMBALA kami rancang bukan sekadar memberikan sarana budidaya, tetapi membangun ekosistem yang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Melalui pendekatan ekonomi sirkular, sumber daya yang tersedia dapat dimanfaatkan kembali untuk menghasilkan pangan sekaligus membuka potensi pendapatan,” ujar Nuril.
Petrokimia Gresik mengalokasikan dukungan sekitar Rp102 juta untuk program tersebut. Bantuan mencakup kandang ayam petelur dan maggot, kolam ikan, fasilitas hidroponik, biopori, planter bag untuk tanaman cabai dan tomat, hingga dukungan operasional Rp2,5 juta untuk masing-masing kelurahan/desa.
Masyarakat penerima juga mendapatkan pelatihan, mentoring dan pendampingan untuk mengelola program secara mandiri.
Pada tahap awal, setiap pengelola memperoleh 12 ekor ayam petelur. Jumlah tersebut dapat ditambah menjadi 24 ekor berdasarkan hasil evaluasi dan perkembangan masing-masing lokasi.
Baca juga: 17 Mahasiswa Berprestasi di Gresik Terima Beasiswa BESTRO Petrokimia
Dengan 12 ekor ayam, produksi telur diperkirakan mencapai 220 hingga 290 butir per tahun. Dari budidaya tersebut, masyarakat berpotensi memperoleh tambahan pendapatan sekitar Rp489 ribu hingga Rp1 juta per bulan, tergantung produktivitas dan pengelolaan di masing-masing lokasi.
“Pemberdayaan dapat dimulai dari skala sederhana. Yang terpenting adalah masyarakat memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengelola serta mengembangkan kegiatan tersebut secara mandiri,” jelas Nuril.
Konsep ekonomi sirkular juga diterapkan dalam pengelolaan limbah. Melalui dukungan Petro Gladiator, sekitar 50 kilogram limbah organik per bulan dapat diolah. Limbah tersebut kemudian menjadi bagian dari ekosistem yang terintegrasi dengan pengembangan maggot, ayam, ikan lele dan tanaman.
Dalam program tersebut juga dikembangkan sekitar 500 gram maggot yang dapat dimanfaatkan dalam rantai budidaya. Dengan pola tersebut, sumber daya yang sebelumnya menjadi limbah diarahkan agar kembali memiliki nilai guna.
Baca juga: Silika Sisa Produksi Petrokimia Gresik Dimanfaatkan untuk Penyaringan Belerang, Hemat Rp259 Juta
Selain menghasilkan pangan dan peluang pendapatan, sejumlah lokasi GEMBALA nantinya juga diarahkan menjadi tempat edukasi bagi anak-anak TK dan SD.
Mereka akan diperkenalkan dengan praktik budidaya, pengelolaan lingkungan, hingga konsep ekonomi sirkular sejak usia dini. Kegiatan kunjungan atau study tour juga dinilai dapat menjadi peluang tambahan bagi masyarakat di sekitar lokasi.
Petrokimia Gresik menyatakan pendampingan akan terus dilakukan agar setiap lokasi dapat mengembangkan program sesuai dengan potensi wilayah masing-masing.
“GEMBALA kami harapkan dapat menjadi contoh bahwa pemberdayaan masyarakat bisa berjalan beriringan dengan prinsip ekonomi sirkular. Dari limbah kita olah, dari lahan yang tersedia kita hasilkan pangan, dan dari proses tersebut kita ciptakan peluang ekonomi,” pungkas Nuril.
Editor : Abdul Aziz Qomar