Karhutla 72 Hektare Terjang Taman Nasional Meru Betiri, Api Sempat Dekati Permukiman Warga Curahnongko

Reporter : Muhammad Hatta
Karhutla seluas 72 hektare melanda kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) di wilayah Desa Curahnongko dan Andongrejo, Kecamatan Tempurejo, Jember.

KLIKJATIM.Com | Jember — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hebat melanda kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) di Kabupaten Jember, Jawa Timur, sejak Selasa (8/9/2026).

Hingga Jumat (11/9/2026), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember mencatat total luasan lahan yang terbakar diperkirakan telah mencapai 72 hektare, melingkupi area Desa Curahnongko dan Desa Andongrejo, Kecamatan Tempurejo.

Baca juga: Dinkop UM Sidoarjo Pacu 4.000 Pelaku Usaha Naik Kelas lewat Pelatihan Kewirausahaan

Peristiwa ini sempat memicu kepanikan warga setelah kobaran api merambat cepat dan mendekati permukiman penduduk di Dusun Krajan, Desa Curahnongko, pada Kamis (10/9/2026) siang. Jarak amukan si jago merah bahkan dilaporkan hanya menyisakan kurang dari 100 meter dari pemukiman warga.

Kepala BPBD Kabupaten Jember, Edy Budi Susilo, mengonfirmasi bahwa kondisi vegetasi yang didominasi dedaunan kering, ilalang, serta tanaman rambat yang terpapar cuaca panas menjadi pemicu utama cepatnya penjalaran api, terlebih didukung oleh hembusan angin yang cukup kencang.

“Luasan lahan yang terbakar diperkirakan sekitar 72 hektare. Lokasinya berada di kawasan Taman Nasional Meru Betiri, masuk wilayah Desa Curahnongko dan Desa Andongrejo,” terang Edy saat memberikan keterangan di Mako BPBD Jember. 

Puncak ancaman terjadi pada Kamis pertengahan hari. Sekitar pukul 12.10 WIB, pergerakan api dari dalam hutan TNMB terus meluas hingga menyeberang ke tanah tetelan (lahan garapan) milik warga yang berbatasan langsung dengan perkampungan.

Sekretaris Desa Curahnongko, Winarto, mengungkapkan detik-detik genting saat api mulai mengintai pemukiman di wilayahnya.

“Kejadian kemarin itu sekitar jam 12.11 siang di wilayah Dusun Krajan, Desa Curahnongko, tepatnya di wilayah taman nasional pada tanah tetelan warga yang sebagian merambat ke wilayah perkampungan. Jaraknya kurang dari 100 meter, bahkan sudah masuk lahan perkampungan,” ujar Winarto.

Menyadari bahaya yang mengancam, warga setempat bersama jajaran Muspika Kecamatan Tempurejo—termasuk Camat, aparat Kepolisian, serta pihak Pemerintah Desa—langsung mengambil tindakan darurat. Menggunakan peralatan seadanya, mereka bergotong royong melokalisasi pergerakan api agar tidak menjangkau bangunan rumah.

“Alhamdulillah, kemarin saya bersama Muspika, Pak Camat, dan pihak kepolisian turun langsung membantu pemadaman dengan alat seadanya. Dari BPBD Jember juga langsung hadir melakukan pengecekan lokasi,” tambah Winarto.

Upaya pemadaman manual yang dilanjutkan oleh Tim Resort Meru Betiri Andongrejo dan tim gabungan akhirnya membuahkan hasil. Sekitar pukul 17.00 WIB, titik api di sektor barat kawasan hutan Desa Curahnongko berhasil dipadamkan sepenuhnya.

Kendati sektor barat berhasil dijinakkan, ancaman belum sepenuhnya mereda. Hanya selang 30 menit pascapadamnya api di barat, petugas kembali mendeteksi munculnya titik api baru di kawasan hutan sebelah timur yang masuk dalam wilayah Desa Andongrejo.

Baca juga: DK3P Jatim Ajak Siswa SMKN 7 Surabaya Kenali K3 Sejak Bangku Sekolah

Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Jember yang tiba di lokasi pada pukul 18.40 WIB langsung melakukan asesmen dan berkoordinasi dengan Tim Resort Meru Betiri serta pemerintah desa setempat. Namun, operasi pemadaman terpaksa dihentikan sementara pada malam hari mengingat medan yang ekstrem dan membahayakan keselamatan personel.

Edy Budi Susilo menjelaskan, akses menuju titik api di kawasan timur tidak dapat dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat.

“Petugas harus berjalan kaki sekitar satu kilometer menembus medan sulit untuk mencapai titik lokasi kebakaran,” jelas Edy.

Selain ancaman kebakaran fisik, paparan asap dan debu sisa pembakaran mulai mengganggu aktivitas dan kesehatan warga sekitar kawasan hutan. Keluhan berupa gangguan pernapasan serta iritasi mata perih mulai banyak dilaporkan di Dusun Krajan, Desa Curahnongko.

“Asap dirasakan hampir di satu dusun. Wilayah yang paling terdampak ada di RT 01/RW 11 karena lokasinya berdekatan langsung dengan hutan yang terbakar. Ada sekitar 200 jiwa di sana,” kata Edy.

Sebagai langkah penanganan dampak kesehatan, BPBD Jember telah mendistribusikan sedikitnya 300 masker—terdiri dari 100 masker untuk warga RW 11 Dusun Krajan dan 200 masker untuk warga Desa Curahnongko secara umum. Selain bantuan logistik kesehatan, BPBD juga menyerahkan lima unit alat gepyok kepada Tim Resort Meru Betiri guna mendukung pemadaman manual di lapangan.

Baca juga: Sambut Angkatan Pertama Institut Sabilillah, Pak Yes Minta Mahasiswa Jadi Lokomotif Perubahan

Winarto menambahkan, dampak abu dan asap ini secara keseluruhan mempengaruhi puluhan kepala keluarga di beberapa RW.

“Di RW 11 tercatat ada 75 KK yang terdampak debu dan asap. Sebagian warga sempat mengungsi atau menghindar sementara, namun sekarang seluruhnya sudah kembali ke rumah masing-masing. Abu sisa kebakaran juga sempat dirasakan warga di sekitar lima RW di Desa Curahnongko,” terangnya.

Hingga Kamis malam, situasi di pemukiman warga dilaporkan terkendali dan kondusif walau pemantauan ketat terus dilakukan.

Guna menuntaskan sisa titik api yang masih membara di kawasan hutan Desa Andongrejo, tim gabungan kembali menggelar operasi pemadaman lanjutan pada Jumat (11/9/2026) pagi mulai pukul 09.00 WIB. Personel berkumpul di Kantor Resort Meru Betiri Andongrejo sebelum bergerak menembus hutan.

“BPBD Jember mengerahkan personel TRC dan berkoordinasi dengan Pos Damkar Ambulu untuk menyuplai dukungan air dalam proses penanganan karhutla di kawasan Taman Nasional Meru Betiri ini,” pungkas Edy.

Editor : Fatih

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru