KLIKJATIM.Com | Surabaya - Sebanyak 245 titik panas (hotspot) terdeteksi di sejumlah wilayah Jawa Timur pada Senin (7/9/2026). Kondisi ini menjadi perhatian karena potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diprakirakan masih berada pada tingkat kewaspadaan tinggi hingga beberapa hari ke depan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Juanda menyebut kondisi kekeringan menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko karhutla di Jawa Timur.
Baca juga: Gempa Dahsyat Magnitudo 7,7 Guncang NTT, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami
Berdasarkan analisis Fine Fuel Moisture Code (FFMC) atau tingkat kekeringan bahan bakar halus, sebagian besar wilayah Jawa Timur saat ini berada dalam kondisi sangat kering.
Kondisi tersebut membuat bahan bakar alami seperti rumput, semak, dan vegetasi kering lebih mudah terbakar. Api juga berpotensi lebih cepat menyebar apabila terjadi kebakaran.
Melalui unggahan di akun media sosial @infobmkgjuanda, BMKG Juanda memetakan tiga wilayah yang menjadi prioritas utama kewaspadaan tinggi, yakni Kabupaten Bojonegoro, Malang, dan Bondowoso.
Sementara itu, Kabupaten Lumajang dan Probolinggo masuk kategori perlu diwaspadai. Kedua wilayah tersebut memiliki konsentrasi titik panas sedang dengan tingkat FFMC tinggi.
BMKG mengingatkan kondisi kekeringan dan kemunculan titik panas perlu mendapat perhatian serius. Jika tidak segera ditangani, karhutla dapat menimbulkan dampak terhadap kesehatan, transportasi, lingkungan, hingga kondisi sosial-ekonomi masyarakat.
Dari sisi kesehatan, asap kebakaran dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, serta iritasi mata. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan memiliki risiko lebih tinggi.
Karhutla juga dapat mengganggu transportasi karena asap berpotensi menurunkan jarak pandang di jalur darat. Jika paparan asap meluas, kondisi tersebut juga dapat mengganggu operasional penerbangan.
Baca juga: BMKG Catat 623 Gempa Bumi Guncang Jawa Timur Selama Juli 2026, Didominasi Gempa Dangkal
Dampak lainnya berupa kerusakan vegetasi, hilangnya keanekaragaman hayati, penurunan kualitas tanah, serta peningkatan emisi gas rumah kaca.
Dari sisi sosial-ekonomi, kebakaran dapat merusak lahan pertanian dan perkebunan masyarakat sehingga menimbulkan potensi kerugian ekonomi serta meningkatkan biaya penanganan bencana.
Menghadapi puncak musim kemarau dan meningkatnya risiko karhutla, BMKG mengimbau masyarakat dan seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan.
Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan secara terbuka. Warga juga diimbau tidak membuang puntung rokok sembarangan dan segera melaporkan kepada pihak berwenang apabila melihat titik api atau kepulan asap.
Pemerintah daerah dan instansi terkait, termasuk BPBD, TNI/Polri, serta Manggala Agni, diminta meningkatkan patroli di wilayah rawan karhutla, menyiapkan sarana pemadaman awal, dan memperkuat koordinasi lintas sektor.
Baca juga: Sepekan, Jatim Dilanda 127 Kali Gempa, Ini Kata BMKG
Pengelola lahan serta sektor pertanian dan perkebunan juga diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar. Pembuatan sekat bakar (firebreak) juga diperlukan untuk membantu mencegah penyebaran api.
Bagi masyarakat yang termasuk kelompok rentan, BMKG menyarankan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker ketika kualitas udara memburuk, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gangguan pernapasan.
BMKG Juanda meminta masyarakat terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG.
Kewaspadaan dan kepedulian bersama dinilai penting untuk mencegah meluasnya kebakaran serta meminimalkan dampak karhutla di Jawa Timur.
Editor : Wahyudi